Sunday, February 20, 2005

Meluruskan Penyimpangan Sejarah Kekhalifahan Khulafa Ar-Rasyidin

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Qowlul Haqqi Wa Kalamus Shidqu Huwa Warogatul Ichlas Allattamami (Perkataan yang hak dan kalimah yang benar, harus diiringi dengan perbuatan yang benar menuju kesempurnaan kebenaran).

Tulisan ini saya turunkan untuk menjadi renungan bagi kita semua, termasuk diri saya sendiri didalam memahami Islam secara utuh dan menghilangkan segala macam khurafat, dengki, takhayul dan hal-hal lainnya yang dapat menyebabkan kehilangan salah satu unsur keseimbangan dari wahyu Allah ini berdasarkan Khofi As Zakiah [hati yang suci] yang amat Khullus [ikhlas] serta dihiasi dengan kebajikan Allat Dawam [yang abadi] lagi disertakan Tahmit [pujian] dan Tamjit Allat Tamami [kebenaran yang sempurna].

Rasul Allah yang mulia, Muhammad Saw Al-Amin sang Paraclete, Ahmad yang dijanjikan telah dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi'ul awal tahun gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi dan wafat pada hari dan tanggal yang sama, hari Senin, 12 Rabi'ul awal tahun 11 hijriah.

Beliau wafat setelah usai menunaikan tugasnya sebagai utusan Tuhan dan Penutup para Nabi, menanamkan nilai-nilai ke-Tuhanan, kebenaran dan prinsip hidup kemasyarakatan kepada manusia dialam semesta selama 20 tahun 2 bulan 22 hari dalam 23 tahun periode keNabiannya dengan menghitung 3 tahun lamanya Rasul tidak mendapatkan wahyu semenjak ia dapatkan pertama kalinya di Gua Hira.

Wahyu terakhir dari Allah yang ia terima adalah pada tanggal 09 Dzulhijjah, 07 Maret 632 Masehi, saat Nabi sedang berwukuf dipadang 'Arafah bersama-sama kaum Muslimin melaksanakan Haji Wada' (Haji perpisahan) yaitu Surah Al-Maidah ayat 3.

Pada masa-masa kepemimpinannya, umat Islam bersatu dalam satu kesatuan yang utuh, tidak ada perpecahan diantara mereka, semua perselisihan yang terjadi, selalu dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sejarah mencatat bahwa dakwah Islam sudah mencapai kenegri Tiongkok ketika Nabi Muhammad Saw sendiri masih hidup (627 M). Adapun yang melakukan penyebaran Islam dinegri tersebut adalah sahabat Nabi yang bernama Abu Kasbah, sekaligus mendirikan masjid pertama di Kanton.

Pada tahun 632 M, Abu Kasbah kembali kenegrinya untuk melaporkan keadaan dinegri Tiongkok kepada Nabi Saw, tetapi kedatangannya ke Madinah ternyata terlambat sebulan dari saat wafatnya Nabi, selanjutnya Abu Kasbah kembali ke Tiongkok dan meninggal disana.

Sepeninggal Nabi Muhammad Saw, umatnya mempermasalahkan bangku kekhalifahan yang akan menggantikan kedudukan Rasul memimpin umat Islam.

Pada hari wafatnya Rasulullah, beberapa sahabat dari golongan Anshar, yang terbagi pada suku Kharaj dan 'Aus telah berkumpul di saqifah, perkampungan Bani Sa'idah untuk merundingkan masalah tersebut dengan para sahabat dari golongan Muhajirin.

Diantara mereka ada yang bermaksud mengangkat Sa'ad bin Ubadah (dari suku Khazraj) menjadi Khalifah pertama, sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa Khalifah tersebut harus dari seorang suku Quraisy.

Abu Bakar Siddiq (mertua Rasul - ayah dari Ummul-Mu'minin 'Aisyah), menengahi perdebatan tersebut dengan mengajukan beberapa sabda Nabi yang menyatakan satu keharusan untuk mendahulukan suku Quraisy dan tidak mendahuluinya, Abu Bakar juga mengingatkan akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh peperangan antara sesama sebagaimana yang pernah terjadi pada masa lalu antara kaum 'Aus dan Kharaj [akibat intrik kaum Ahli kitab dan Yahudi] sembari menawarkan dua orang tokoh dari suku Quraisy yaitu Umar bin Khatab (juga Mertua Rasul - ayah dari Ummul-Mu'minin Hafshah) dan Abu Ubaidah.

Pencalonan dirinya oleh Abu Bakar ini ditolak oleh Umar Bin Khatab dan sebaliknya beliau malah menunjuk Abu Bakar sendiri untuk menempati posisi kekhalifahan tersebut dengan berbagai argumennya (yang salah satunya bahwa pada saat-saat terakhir kehidupannya, Nabi Muhammad Saw telah meminta Abu Bakar untuk menggantikan beliau sebagai imam shalat).

Penunjukan Abu Bakar sebagai Khalifah Ar-Rasul pertama disetujui oleh sebagian besar sahabat seperti Abu Ubaidah, Basyir bin Sa'ad dan lain sebagainya.

Namun disisi lainnya, pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah ini tidak mendapatkan dukungan dari Fatimah Az-Zahra (putri Nabi dari Khadijjah - istri pertama beliau) dan juga dari Ali Bin Abu Thalib (Keponakan sekaligus menantu Nabi - suami dari Fatimah) ditambah pula oleh Sa'ad bin Ubaidah, Bani Hasyim serta pengikutnya selama enam bulan kemudian sampai pada wafatnya Fatimah.

Pada saat berlangsungnya peristiwa Saqifah, Ali bin Abu Thalib sedang mengurus jenazah Nabi. Dia tidak mengetahui adanya pertemuan itu. Yang dia ketahui adalah bahwa Abu Bakar telah terpilih. Beberapa sahabat lainnya memandang bahwa Ali Bin Abu Thalib inilah yang sebenarnya lebih berhak dijadikan Khalifah Ar-Rasul.

Para sahabat ini mengeluarkan argumennya bahwa dalam suku Quraisy, Bani Hasyim dan Bani Umayyah adalah dua suku terhormat. Dan Ali merupakan pemuda dari Bani Hasyim yang terhormat dan dekat pula dengan Nabi semasa hidupnya.

Tokoh lainnya yang pantas untuk menduduki jabatan Khalifah adalah Hamzah Bin Abdul Muthalib (paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah), hanya sayangnya pada saat itu Hamzah Bin Abdul Muthalib telah wafat pada peperangan Uhud ditangan seorang budak bernama Wahsyi yang dijanjikan kebebasannya oleh Hindun Binti 'Utba.

Selain Hamzah, terdapat pula paman Nabi yang lain yang masih hidup yaitu Abbas bin Abdul Muthalib tetapi karena Abbas ini baru masuk Islam, maka seharusnya menurut mereka Ali Bin Abu Thalib lah yang berhak.

Pada awal pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah pertama itu juga, Abu Sufyan menawarkan bantuan kepada Ali bin Abu Thalib untuk merebut kekuasaan dari Abu Bakar, tapi tawaran Abu Sufyan ini ditolak oleh Ali Bin Abu Thalib dengan arif dan bijaksana demi menjaga keutuhan umat. Pada masa berikutnya, Ali Bin Abu Thalib memberikan bantuan dan sokongannya kepada pemerintahan Abu Bakar.

Dalam buku Nahjul Balaghah Juz 1, halaman 182 dituliskan perkataan Ali Bin Abu Thalib r.a,

"Tinggalkanlah aku dan carilah orang lain, karena kita menghadapi persoalan yang amat kompleks. Dan ketahuilah, jika aku menjawab permintaan kalian, aku hanya akan mengikuti apa yang aku ketahui, dan aku tidak akan mendengarkan pendapat orang yang berpendapat dan celaan orang yang mencela. Sebaliknya, jika kalian meninggalkan aku, maka aku akan menjadi rakyat biasa seperti kalian. Semoga aku mendengar dan taat kepada siapapun yang kalian percayai untuk memimpin kalian. Lebih baik bagi kalian jika aku menjadi wazir (pembantu) dari pada menjadi Amir (Pemimpin)."

Dalam buku yang sama, yaitu pada juz ke-3 halaman 8 diterangkan pernyataan Ali Bin Abu Thalib r.a mengenai keabsahan dunia kekhalifahan pimpinan Abu Bakar r.a

"Sesungguhnya bai'at itu hanya sekali, tidak boleh ada alternatif kedua dan tidak diizinkan memilih (berbai'at atau tidak berbaiat). Barang siapa keluar dari padanya, ia telah berbuat kejahatan dan barang siapa menolaknya, ia telah berkhianat."

Ali r.a juga menegaskan

"Demi agamaku, andaikata imamah tidak dapat terlaksana kecuali dengan dihadiri seluruh rakyat, maka hal itu akan sulit terjadi. Namun cukuplah penduduk yang hadir menentukan pilihan bagi mereka yang tidak hadir. Setelah itu tidak ada alasan bagi mereka yang hadir untuk menolak bai'at dan tidak ada alasan pula bagi yang tidak hadir untuk memilih." (Nahjul Balaghah juz 2 halaman 86).

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, orang-orang Nejeb dan Yaman menyatakan diri murtad dari Islam dan mengikuti Musailamah AlKazhab yang mengaku sebagi Nabi, padahal seperti yang sudah disabdakan oleh beliau Saw sendiri, sesudahnya tidak akan ada lagi Nabi yang diutus oleh Allah untuk manusia [QS. 33:40]

Gerakan Musailamah AlKazhab ini kian harinya semakin merusak Islam, menimbulkan fitnahan dan semacamnya terhadap risalah Tauhid Ilahi, dan ini mendorong Khalifah Abu Bakar untuk segera mengambil tindakan tegas. Terjadilah pertempuran fisik di Yamamah pada tahun 12 Hijriah yang menyebabkan 70 orang sahabat yang hafal AlQur'an gugur sebagai syuhada.

Hal ini menimbulkan keprihatinan kepada Umar Bin Khatab, dan atas inisiatifnya, beliau menyarankan kepada Khalifah Abu Bakar untuk segera membukukan secara tertulis semua ayat AlQur'an berdasarkan hafalan semua sahabat dan juga catatan -catatan mereka selagi Nabi masih hidup menjadi satu buku, sehingga dengan begitu, apabila kelak kembali terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, AlQur'an akan 'tetap hidup' dan satu meski para penghafalnya sudah tiada.

Saran Umar ini disetujui oleh Khalifah, dan dibentuklah suatu panitia yang diketuai oleh Zaid Bin Tsabit, dengan dibantu oleh Ali Bin Abu Thalib, Usman Bin Affan dan Ubay Bin Ka'ab yang kesemuanya itu adalah para penulis wahyu AlQur'an dan sekertaris Nabi Muhammad semasa hidupnya dan telah diuji oleh Nabi sendiri hafalannya dengan disaksikan oleh semua kaum Muslimin.

Tugas pembukuan AlQur'an tersebut dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu tahun, kemudian mushaf Qur'an ini diserahkan kepada Abu Bakar untuk disimpan.

Nama asli dari Khalifah Abu Bakar Siddiq adalah Abdullah Bin Abu Kuhafa dari Bani Taim Ibni Murra, berusia 2 tahun lebih muda dari Nabi Muhammad Saw.

Dialah yang menemani Rasulullah dalam perjalanannya hijrah ke Yatsrib (Madinah), dan menemani beliau ketika berada dalam Gua Tsur untuk menghindari kejaran Abu Jahal dan para kafir Quraisy (hal ini juga tercatat dalam AlQur'an Surah At-Taubah ayat ke-40).

Gelar Siddiq (orang yang percaya) diperolehnya langsung dari Nabi Muhammad Saw ketika beliau membenarkan semua yang diceritakan oleh Baginda Rasul mengenai pengalaman Mi'rajnya[1] keplanet Muntaha disaat orang lain banyak yang mendustakannya.

Pada masa Kekhalifahan Umar Bin Khatab Islam terus menyebar ke Armenia dan Azerbaijan timur serta Tripoli barat. Dengan demikian Islam sudah tersebar sampai ke Suriah dan Palestina yang kala itu menjadi bagian kekaisaran Byzantium, terus ke Turki, Mesir, Iraq, Iran hingga Persia dan menyebrang ke Afrika Utara.

Khalifah Umar Bin Khatab juga yang membangun Masjidil-Aqsa (637M/?) dikota Yerusalem yang artinya The City of the Temple dalam bentuk yang sangat sederhana, terdiri dari empat buah tembok berbentuk persegi, yang cukup luas untuk menampung 3000 umat untuk bersembahyang. Letaknya dipelataran Kuil Raja Herodes (Herod's Temple) yang luas. Herod's Temple ini juga berada dalam satu area dengan sisa-sisa puing Kuil Nabi Sulaiman as.

Pelataran ini letaknya agak tinggi sehingga orang mesti memanjat untuk dapat berada disana. Ketika Khalifah Umar datang berkunjung, pelataran ini merupakan tempat burung-burung buang hajat dan pembuangan sampah kota Yerusalem yang tidak terpelihara.

Khalifah Umar Bin Khatab Alfaruq dan pengikutnya membersihkan pelataran ini dan membangun cikal-bakal Masjidil-Aqsa di salah satu sudutnya (bagian selatan). Mesdjid Umar ini kemudian diperbaiki dan diperluas menjadi Masjidil-Aqsa seperti yang ada sekarang. Ada lagi bangunan yang lebih besar dari Masdjid Al-Aqsa yaitu The Dome of Rock yang terletak diseberangnya. Mesdjid Al-Aqsa mempunyai kubah (dome) berwarna perak sedangkan The Dome of Rock berwarna Emas. The Dome of Rock ini mulai dibangun pada thn 688 oleh Abdul Malik, Khalifah yang memerintah saat itu.

Keagungan Umar Bin Khatab tercatat dalam sejarah kemanusiaan sebagai orang besar nomor dua setelah Nabi Muhammad Saw yang berhasil memperjuangkan dan menyebarkan Islam kepada manusia. Namanya juga tercatat dalam urutan ke-51 setelah Poper Urban II dan sebelum Asoka bahkan sebelum nama Julius Caesar pada buku Seratus Tokoh Michael H. Hart dengan Rasulullah Saw sebagai tokoh yang berada pada urutan pertama.

Terhadap Khalifah Umar Bin Khatab r.a, Ali Bin Abu Thalib berkata :

"Sungguh Allah telah memberikan kehebatan kepada Umar. Dia telah meluruskan tujuan dan mengatasi musibah. Ia perbaiki kerusakan dan ia tegakkan sunnah. Ia pelihara kesucian diri dan aibnya. Ia telah mendapatkan kebaikan dari dirinya dan mengalahkan kejahatan nafsunya.

Telah ia tunaikan ketaatan terhadap Tuhannya dan ia jaga ketaatan itu dengan sebenar-benarnya. Ia telah pergi dengan meninggalkan bagi umatnya jalan-jalan bercabang banyak yang sulit bagi orang yang tersesat untuk menemukan jalan (melakukan kejahatan) dan orang yang mendapat petunjuk pun tidak merasa pasti (akan keadaan umat sepeninggalnya)." (Nahjul Balaghah Juz. 2 halaman 222).


Umar Bin Khatab termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat.

Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.

Pengangkatan Usman Bin Affan (menantu Nabi yang digelari juga dengan nama Zun Nuraini karena menikahi 2 putri Nabi yaitu Ruqayah dan Ummu Kalsum) sebagai Khalifah ketiga pengganti Khalifah Umar mendapatkan pro dan kontra dari beberapa kalangan sementara Ali Bin Abu Thalib sendiri justru mendukung keKhalifahan Usman yang diperoleh dari hasil musyawarah ini.

Dalam Nahjul Balaghah juz 2 halaman 48 disebutkan pernyataan Ali terhadap Usman.

"Sesungguhnya ada banyak orang dibelakangku dan mereka meminta aku menemuimu untuk menyampaikan keluhan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadamu, tidak ada sesuatu yang kuketahui yang tidak engkau ketahui. Tidak ada pula suatu perkara yang perlu aku tunjukkan karena engkau tidak mengetahuinya.


Sesungguhnya engkau tahu apa yang kami tahu, dan tidak ada sesuatu yang kami lebih dulu tahu sehingga perlu kami beritahukan kepadamu. Tidak pula ada sesuatu yang hanya kami mengetahuinya yang perlu kami sampaikan kepadamu. Sungguh telah engkau ketahui apa yang kami ketahui, dan engkau dengar apa yang kami dengar, dan engkau temani Rasulullah sebagaimana beliau kami temani.

Tidaklah Ibnu Abu Quhafah (Abu Bakar) ataupun Umar lebih utama darimu untuk menegakkan kebenaran, sementara engkau lebih dekat kekeluargaanmu dengan Rasulullah daripada mereka berdua. Engkau telah menjadi menantunya, sedang mereka tidak demikian. Hati-hatilah engkau dengan dirimu sendiri. Demi Allah, sungguh engkau bukanlah orang yang dapat melihat karena terlepas dari kebutaan dan bukan pula orang yang berilmu karena terlepas dari kebodohan."

Pada masa Khalifah Usman Bin Affan, atas inisiatif Hudzaifah Bin Yaman, salah seorang sahabat dekat Rasulullah, menyarankan kepada Khalifah Usman agar segera mengusahakan keseragaman bacaan AlQur'an dengan jalan menyeragamkan penulisan AlQur'an diantara bangsa-bangsa Islam yang semakin besar dan menyebar.

Penggandaan yang dilakukan oleh Khalifah Usman Bin Affan itu sendiri berdasarkan AlQur'an yang telah dibukukan oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan disimpan oleh Hafshah Bin Umar Bin Khatab dengan tetap dibawah pimpinan Zaid Bin Tsabit.

Pada masa kekhalifahan Usman bin Affan ini juga, Kaisar Kao Tsung dari daratan Tiongkok pernah mengirimkan perutusan ke Madinah karena mengagumi atas munculnya 'kerajaan baru' dan mempunyai pedoman agama yang kuat. Misi persahabatan ini dibalas oleh Khalifah Usman Bin Affan dengan mengirimkan misi persahabatan pula ke Tiongkok.

Setelah kewafatan Khalifah Usman Bin Affan dari Bani Umayyah, Ali Bin Abu Thalib naik menjadi Khalifah ke-4 menggantikannya dan memindahkan pusat pemerintahan ke Kufah, Irak.


Ali Bin Abu Thalib terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khatab r.a., Ali bin Abi Thalib pun terkenal keberaniannya didalam peperangan. Beliau sudah mengikuti Rasulullah sejak kecil dan hidup bersamanya sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga wafatnya.

Naiknya Ali Bin Abu Thalib sebagai Khalifah adalah atas desakan sebagian besar penduduk Madinah yang waktu itu sedang berada dalam kekacauan akibat terbunuhnya Khalifah Usman Bin Affan. Selama hampir lima tahun Ali Bin Abu Thalib memerintah dalam situasi negara yang tidak stabil. Keadaan tersebut sebenarnya telah diwarisi sejak tahun-tahun terakhir pemerintahan Khalifah Usman.

Setelah Ali Bin Abu Thalib berkuasa, beberapa orang sahabat meminta kepadanya agar segera menghukum orang-orang yang diduga menjadi pembunuh Khalifah Usman. Namun permintaan tersebut tidak dapat dikabulkan oleh Khalifah Ali karena belum jelas siapa oknum sebenarnya yang telah melakukan pembunuhan tersebut.

Hal tersebut membuat kecewa Thalhah dan Zubayr, r.a, sehingga mereka membujuk Ummul-Mu'minin 'Aisyah r.a, untuk mengangkat senjata kepada Khalifah dan menarik kembali pernyataan Bai'at mereka kepadanya. Ibnu Al-Asir mencatat sejumlah delapan belas orang yang enggan berba'iat diantara mereka terdapat Sa'ad Bin Abi Waqqas yang pada masanya menjadi penakluk Parsi, Ibnu 'Umar, Usamah dan Zaid Bin Tsabit (Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk memata-matai gerakan musuh)

Itulah perang Jamal atau perang Onta, tahun 36 H. -disebut demikian karena 'Aisyah memimpin pasukan dari punggung onta. Atas perlawanan para sahabat dan Mertua tirinya itu, Khalifah Ali Bin Abu Thalib tidak melakukan tindakan represif melainkan mengirimkan utusan (yaitu Qa'qa bin Amr r.a) kepada istri Nabi tersebut untuk mencari jalan damai.

Utusan Khalifah tersebut disambut oleh Thalhah dan Zubayr yang tetap menginginkan Khalifah melakukan tindakan tegas terhadap oknum pembunuhan Khalifah Usman.

"Kami menginginkan para pembunuh Utsman (untuk di Qishas). Yang demikian kalau kita tinggalkan berarti kita meninggalkan AIQur'an. Dan jika kita melaksanakannya berarti kita menghidupkan AI-Qur'an."

Setelah usaha perdamaian itu gagal, Khalifah Ali terpaksa mengadakan perlawanan terhadap para sahabat dan mertua tirinya itu sehingga menyebabkan kalahnya pasukan Ummul Mu'minin 'Aisyah ra,

Dan dengan kearifannya Khalifah Ali mengamanatkan pasukannya agar menghormati Ummul-Mu'minin itu dan mengembalikannya ke Madinah dengan penuh penghormatan dan perlindungan.

Khalifah Ali bin Abu Thalib telah membersihkan atau mengembalikan nama baik Sayyidah 'Aisyah dari kesalahannya memimpin perang terhadapnya. Posisi Ali yang pada waktu itu sebagai seorang Imam atau Khalifah memungkinkan beliau untuk melakukannya.

Tercatat dalam Nahjul Balaghah juz 2 halaman 48 mengenai status 'Aisyah dihadapan Khalifah Ali Bin Abu Thalib r.a

"Dan baginya kehormatannya seperti semula (sebelum terjun kemedan perang), adapun perhitungan atas amalnya adalah ditangan Allah Ta'ala"


Pada peperangan Jamal itu, Thalhah bin Abdullah dan Zubayr Bin 'Awaam gugur terbunuh. Thalhah Bin Abdullah ra. masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra. Selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar. Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah Saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah gugur dalam peperangan Jamal dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.

Sementara Zubair Bin Awaam r.a, memeluk Islam juga berkat Abu Bakar Siddiq ra. Dia ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan bersama Nabi Saw. Saat gugur dalam perang Jamal, beliau berusia 63 tahun dan dikuburkan di Basrah.

Pecahnya perang antara para sahabatnya tersebut pernah diramalkan oleh Rasulullah Saw. Diriwayatkan, ketika Zubayr tengah mengiringi Nabi Saw berjalan, dan bertemu Ali r.a., Zubayr tersenyum ramah kepada Ali. Lalu Nabi bertanya: "Seberapa besar cintamu kepada Ali ?" "Ya Rasulullah," Jawab ipar 'Aisyah itu. "Demi ayah dan ibuku, aku mencintainya sebesar cintaku kepada ayah dan ibuku atau malah lebih besar lagi." Tetapi, sahut Nabi: "Lalu bagaimana kalau engkau kelak beranjak memeranginya ?" (Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, II:153)

Sebenarnya, baik 'Aisyah, Thalhah maupun Zubayr r.a sendiri sebelumnya merasa enggan untuk mengadakan perlawanan senjata kepada Khalifah Ali Bin Abu Thalib, hal ini tercantum dalam Tarikhur At-Thabari Juz 4 fil fitnah 211.- Tabqiq Mawaqifus Shah'ahab.

Orang-orang yang pernah dekat dengan Nabi Saw semasa hidupnya tersebut hanya menginginkan berjalannya hukum Allah atas pembunuhan Khalifah Usman sebagaimana yang tertuang dalam AlQur'an surah Al Israa :
"Dan barangsiapa yang dibunuh secara zalim, maka seseungguhnya Kami telah memberi kekuasaan pada walinya (untuk menuntut bela) tapi janganlah melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan." (Al-Isra 17:33)

Berperang melawan Ali Bin Abu Thalib, lebih-lebih lagi dengan posisinya sebagai seorang Khalifah adalah satu beban moral tersendiri, selain karena dekatnya sang Khalifah ini kepada Nabi sepanjang hidupnya, juga sewaktu hendak berangkat dalam perang Tabuk, Nabi Muhammad Saw pernah menyamakan kedudukan Ali Bin Abu Thalib terhadap dirinya adalah seperti kedudukan Nabi Harun dengan Nabi Musa as.

"Kedudukanmu padaku seperti kedudukan Harun pada Musa, tapi sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku." (HR. Bukhari & Muslim)

Dimasa pemerintahan Khalifah Ali Bin Abu Thalib ini juga pecah peperangan melawan pemberontakan Mu'awiyah, seorang gubernur dari Damaskus yang ingin menuntut bela atas kematian Khalifah Usman yang masih ada hubungan keluarga dengan dirinya, peperangan tersebut terkenal dengan nama perang "Shiffien".

Perseteruan antara Muawiyyah dan Khalifah Ali ini pada awalnya tidak melibatkan perebutan bangku kekuasaan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

"Dan Muawiyyah radhiallahu anhu tidak mengaku khalifah dan belum berbaiat kepada Ali ketika memeranginya. Dia tidak melawan Ali sebagai khalifah, dan tidak juga dia mengaku berhak sebagai khalifah bahkan mengakui bahwa Ali lebih berhak untuk itu, bahkan mengikrarkan demikian ketika ditanya tentangnya." (Fatwa Ibnu Taimiyah juz 35 hal. 72)

Muawiyyah pernah menjadi pencatat wahyu di zaman Rasulullah Saw. Beliau menjadi Gubernur Syam yang dipilih dan diangkat oleh Khalifah Umar Bin Khatab dan diteruskan pada masa pemerintahan Khalifah Usman radh'allahu anhu.

Tentang masalah kemewahan, beliau pemah ditegur oleh Khalifah Umar bin AI-Khattab radhiallahu anhu dan Muawiyyah menjawab bahwa itu merupakan politik atau cara Muawiyyah dalam memuliakan Islam di hadapan musuh-musuhnya. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Ketika Khalifah Umar tengah berkunjung keSyam dan menyaksikan gaya hidup Muawiyyah, beliau menegur dan mengatakan:

"mengapa engkau berbuat demikian ? sunguh aku sangat ingin menyuruh engkau hijaz dengan bertelanjang kaki." Maka Muawiyyah menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kami berada di bumi (daerah) yang penuh mata-mata musuh. Maka kita mesti menunjukkan kemuliaan penguasa Islam, yang berarti juga ke'muliaan Islam dan kaum muslimin sehingga menakuti mereka (musuh) dengannya. Kalau engkau perintahkan aku (dengan sesuatu) aku akan mengerjakannya dan kalau engkau larang aku, aku akan berhenti."

Demikianlah jawaban Muawiyyah kepada Umar bin Khatab, hingga akhirnya beliau (Umar) mengatakan: "Jika itu benar, itu pendapatmu, dan jika itu bathil, maka itu tipudayamu !" Maka berkata Muawiyyah: "Wahal Amirul Mukminin, perintahkanlah sesuatu padaku." Beliau (Khalifah Umar Bin Khatab) menjawab: "Aku tidak menyuruhmu dan tidak melarangmu." (Al-Bidayah wan Nibayab 8/ 124-125, lihat Syubbat haulas shahahah hal. 20 oleh Muhammad Maalullah)

Pada akhirnya, Muawiyyah menganggap Khalifah Ali melindungi pembunuh Khalifah Usman dan mulai mengobarkan peperangan terhadapnya dan menyatakan bahwa Ali tidak layak untuk menjadi pemimpin karena tidak dapat bersikap tegas dan dengan begitu Muawiyyah mulai menyinggung masalah tampuk kepemimpinan keKhalifahan.

Dalam peperangan melawan Mu'awiyah bin Abu Sufyan ini pasukan Khalifah Ali di bawah pimpinan Abu Musa Al-As'ari sudah akan berhasil mengalahkan pasukan Mu'awiyyah di bawah pimpinan Amr Ibn 'Ash. Namun karena siasat Amr Ibn 'Ash yang mengacungkan mushaf al-Qur'an diujung tombaknya sebagai tanda perdamaian, Abu Musa Al-As'ari menghentikan peperangannya. Khalifah Ali r.a. pun setuju diadakannya perdamaian itu.

Tindakan Khalifah yang lebih mementingkan ukhuwah dan perdamain ini menimbulkan pro dan kontra pasukannya. Perpecahan itu semakin tajam setelah ternyata perdamaian itu dianggap tidak fair dan menguntungkan kubu pasukan Mu'awiyyah. Sejarah kemudian mencatat bahwa pasukan Mu'awiyyah dapat mengalahkan pasukan Khalifah Ali.

Pasukan Ali yang tidak menyetujui perdamaian itu bereaksi keras dengan menyatakan keluar dari kubu Ali, sehingga mereka dikenal dengan sebutan kaum Khawarij (yang secara harfiah berarti golongan luar) disebut begitu karena mereka memisahkan diri dari masyarakat akibat dari perselisihan Muawiyyah dan Khalifah Ali. Kaum Khawarij ini lalu mengembangkan theologi tersendiri.

Mereka mempertahankan pendapat bahwa arbitrasi itu seharusnya tidak pernah terjadi dan bahwa arbitrasi dalam agresi bertentangan dengan ketentuan Al-Qur'an.

Sebaliknya golongan yang setuju dengan sikap Khalifah Ali tidak menerima pernyataan kelompok Khawarij ini dan mereka tetap setia kepada Khalifah dan bahkan beberapa diantaranya sampai ada yang mengkultuskannya hingga sesat sesesatnya.

Kaum Khawarij menuduh sebagian besar sahabat yang termasyur sebagai kafir, termasuk Khalifah Usman, Khalifah Ali, Thalhah dan Zubayr dan memperbolehkan mengadakan perlawanan terhadap mereka. (Al-Syawkani, Nayl Al-Awthar, VII, 190, el-Awa, The Political System, hlm. 56, Isma'il, Manhaj, hlm. 319)

Kaum Khawarij ini pun mempertanyakan keabsahan keKhalifahan Ali karena beliau menyetujui arbitrasi. Proses dan hasil arbitrasi itu dikisahkan dan diinterpretasikan secara bervariasi, namun kaum Khawarij tetap mencela arbitrasi itu dan menyatakan bahwa pertempuran melawan Muawiyyah harus dilanjutkan sampai permasalahannya diputuskan berdasarkan prinsip-prinsip yang benar.

Diriwayatkan sekitar 8000 orang Khawarij menentang keputusan Khalifah Ali mengenai arbitrasi dengan Muawiyyah, namun sebagaimana perlakuannya terhadap para sahabatnya dalam peperangan Jamal, Khalifah Ali kali ini juga tidak mengambil langkah kekerasan, sebaliknya beliau mengirim seorang sahabat bernama Ibnu Abbas untuk membicarakan perbedaan-perbedaan mereka secara damai.


Sekitar 4000 orang Khawarij berhasil dibujuk untuk kembali, dan Khalifah juga meminta yang lain untuk kembali tetapi mereka menolak. Dengan kearifannya, Ali bin Abu Thalib mengirimkan pesan kepada mereka :

"Kalian boleh bertahan sebagaimana yang kalian inginkan dan kami tidak akan mengobarkan peperangan selama kalian menghindari pertumpahan darah, penipuan dan tindakan-tindakan diluar hukum serta kecurangan. Tetapi jika kalian melakukan salah satu perbuatan tersebut, kami akan memerangi kalian". (Al-Syawkani, Nayl Al-Awthar, VII, 187, lihat juga Al-'Illi, Al-Hurriyat, hlm. 384)

Akan tetapi kebijaksanaan Khalifah Ali ini dilanggar oleh kaum Khawarij dengan pembunuhan terhadap gubernur Nahrawan Khabbab bin Al Art. Khalifah meminta kaum Khawarij menyerahkan sipembunuh kepada pengadilan. Tetapi mereka menolaknya dan menjawab bahwa itu adalah aksi yang dilakukan secara bersama-sama.

Jadi mereka menolak untuk mematuhi Khalifah dan menantang otoritasnya secara terbuka. Oleh karena itu Khalifah Ali mengumumkan perang melawan mereka dan berhasil mengalahkan mereka di Nahrawan.

Salah seorang pengikut Khalifah pernah melontarkan kecaman kepada Khalifah :
"Dahulu, ketika Abu Bakar dan Umar memerintah, tidak terjadi perpecahan Islam seperti sekarang, tapi berbeda ketika engkau memerintah." Kecaman ini dibalas oleh Khalifah : "Dahulu Abu Bakar dan Umar memerintah orang seperti aku; sedangkan sekarang aku memerintah orang seperti kamu !"
Nahjul Balghah juz 2 halaman 184 menceritakan pernyataan Ali Bin ABu Thalib

"Demi Allah. aku sama sekali tidak memiliki keinginan memikul jabatan khilafah ataupun wilayah, akan tetapi kalianlah yang memanggil aku dan membawaku kepadanya. Ketika aku menerima tugas itu, aku mengikuti petunjuk Kitabullah dan segala yang telah ditetapkan Allah. Akupun meneladani segala yang disunnahkan oleh Rasul-Nya."

Sementara itu akhir dari peperangan Khalifah Ali dengan gubernur Syam Muawiyyah yang berlangsung selama 50 tahun menghasilkan kekalahan terhadap Khalifah.

Pada hari Asyura, telah terjadi pembantaian secara biadab terhadap cucu kesayangan Rasulullah Saw, Hasan dan Husien beserta keluarganya di padang Karbala oleh Yazid putra Muawiyyah.

Beberapa sahabat terdekat Nabi Saw juga mendapatkan perlakuan biadab dari Muawiyah dan pengikutnya, diantaranya adalah Muhammad putra Khalifah Abu Bakar Siddiq r.a, (setelah dibunuh jasadnya dimasukkan ke dalam bangkai himar lalu dibakar), Amr bin Hamk (setelah digigit ular kepalanya dipotong dan diarak keliling lalu dilemparkan ke pangkuan isterinya), Hujur ibn 'Adi (dibunuh karena tidak mau melaknat Khalifah Ali), Abdurrahaman bin Hasan (dikubur hidup-hidup).

Kubu Mu'awiyyah dari Bani Umayyah yang memenangkan peperangan merasa berkepentingan untuk mempertahankan status quonya. Karenanya mereka mengembangkan paham theologi Jabariyah kepada kaum muslimin. Menurut faham ini ummat Islam harus pasrah kepada nasib dan tunduk kepada pemimpin mereka karena semua itu adalah ketetapan ('qada) dari Allah.

Muhammad Ibn Ali al-Hanafiyyah, salah seorang putra Khalifah Ali Bin Abu Thalib menentang faham ini dengan menawarkan faham Qadariyyah. Pemikiran ini merupakan cikal-bakal lahinya faham Mu'tazilah yang dicetuskan oleh Ibn 'Atha', salah seorang murid Muhammad Ibn Ali al-Hanafiyyah. Faham ini menyatakan setiap manusia memiliki kebebasan penuh untuk menentukan nasibnya sendiri.

Perbedaan faham theologi (aqidah) yang bermula dari pertentangan politik itu ternyata menjalar ke aspek-aspek lain termasuk syari'ah, muamalah, syiasah, dsb.

Diambil dari berbagai sumber, diantaranya

--------------------------------------------------------------------
Dr. Musa Al Musawi ; Meluruskan Penyimpangan Syi'ah
Jalaludin Rakhmat; Islam Aktual
Muhammad Husain Haekal; Sejarah Hidup Muhammad
Dan lain sebagainya ...


sumber: milis eramuslim.net

2 Comments:

At May 9, 2013 at 8:07 AM, Blogger Camelo es cream paduan SUSU dan aneka RASA BUAH said...

setelah sy baca artikel ini sungguh tuduhan2 sejarawan barat adalah tidak benar terhadap sejarah islam. terlihat sekali masing-masing khalifah bekerjasama menjaga kesatuan umat.. itu sudah saya duga selama ini, tidaklah mungkin sahabat2 yang dekat dengan nabi saling bermusuhan hanya karen kekuasaan.. yang terjadi justeru karena mereka ingin menjalankan syari`at.
menurut saya, referensi sejarah umat ini harus didapat dari umat islam, bukan dari barat. menurut taqiyuddin an-nabhani, sejarah yang dapat dipercaya haruslah sejarah yang ditulis berdasarkan periwayatan layaknya hadits, seperti sirah ibnu hisyam, sirah karya imam aththabary, ibnu katsir dll yang pake riwayat. its lebih saya percaya

 
At May 9, 2013 at 8:09 AM, Blogger Camelo es cream paduan SUSU dan aneka RASA BUAH said...

thaks

 

Post a Comment

<< Home