Tuesday, April 19, 2005

Bahagia

Kebahagian seorang hamba adalah selalu mengabdi dan tunduk atas perintah sang RAJA dan dengan ketaan itulah pasti akan terwujud kebahagiian yang hakiki.


Allah terima kasih atas segala limpahan rahmat-Mu selama ini terutama tuk hari ini.
Bimbinglah aku mencapai kebahagian-Mu yang hakiki.

Amin.

Tuesday, March 22, 2005

ketemu juga

akhirnya bisa juga setelah sekian lama janji tuk silaturahmi,pit n anti gak nyangka yah..........aku jadi bertandang juga ke rumah kalian.syukurlah ibu si anti sehat

Sunday, February 20, 2005

Meluruskan Penyimpangan Sejarah Kekhalifahan Khulafa Ar-Rasyidin

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Qowlul Haqqi Wa Kalamus Shidqu Huwa Warogatul Ichlas Allattamami (Perkataan yang hak dan kalimah yang benar, harus diiringi dengan perbuatan yang benar menuju kesempurnaan kebenaran).

Tulisan ini saya turunkan untuk menjadi renungan bagi kita semua, termasuk diri saya sendiri didalam memahami Islam secara utuh dan menghilangkan segala macam khurafat, dengki, takhayul dan hal-hal lainnya yang dapat menyebabkan kehilangan salah satu unsur keseimbangan dari wahyu Allah ini berdasarkan Khofi As Zakiah [hati yang suci] yang amat Khullus [ikhlas] serta dihiasi dengan kebajikan Allat Dawam [yang abadi] lagi disertakan Tahmit [pujian] dan Tamjit Allat Tamami [kebenaran yang sempurna].

Rasul Allah yang mulia, Muhammad Saw Al-Amin sang Paraclete, Ahmad yang dijanjikan telah dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi'ul awal tahun gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi dan wafat pada hari dan tanggal yang sama, hari Senin, 12 Rabi'ul awal tahun 11 hijriah.

Beliau wafat setelah usai menunaikan tugasnya sebagai utusan Tuhan dan Penutup para Nabi, menanamkan nilai-nilai ke-Tuhanan, kebenaran dan prinsip hidup kemasyarakatan kepada manusia dialam semesta selama 20 tahun 2 bulan 22 hari dalam 23 tahun periode keNabiannya dengan menghitung 3 tahun lamanya Rasul tidak mendapatkan wahyu semenjak ia dapatkan pertama kalinya di Gua Hira.

Wahyu terakhir dari Allah yang ia terima adalah pada tanggal 09 Dzulhijjah, 07 Maret 632 Masehi, saat Nabi sedang berwukuf dipadang 'Arafah bersama-sama kaum Muslimin melaksanakan Haji Wada' (Haji perpisahan) yaitu Surah Al-Maidah ayat 3.

Pada masa-masa kepemimpinannya, umat Islam bersatu dalam satu kesatuan yang utuh, tidak ada perpecahan diantara mereka, semua perselisihan yang terjadi, selalu dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sejarah mencatat bahwa dakwah Islam sudah mencapai kenegri Tiongkok ketika Nabi Muhammad Saw sendiri masih hidup (627 M). Adapun yang melakukan penyebaran Islam dinegri tersebut adalah sahabat Nabi yang bernama Abu Kasbah, sekaligus mendirikan masjid pertama di Kanton.

Pada tahun 632 M, Abu Kasbah kembali kenegrinya untuk melaporkan keadaan dinegri Tiongkok kepada Nabi Saw, tetapi kedatangannya ke Madinah ternyata terlambat sebulan dari saat wafatnya Nabi, selanjutnya Abu Kasbah kembali ke Tiongkok dan meninggal disana.

Sepeninggal Nabi Muhammad Saw, umatnya mempermasalahkan bangku kekhalifahan yang akan menggantikan kedudukan Rasul memimpin umat Islam.

Pada hari wafatnya Rasulullah, beberapa sahabat dari golongan Anshar, yang terbagi pada suku Kharaj dan 'Aus telah berkumpul di saqifah, perkampungan Bani Sa'idah untuk merundingkan masalah tersebut dengan para sahabat dari golongan Muhajirin.

Diantara mereka ada yang bermaksud mengangkat Sa'ad bin Ubadah (dari suku Khazraj) menjadi Khalifah pertama, sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa Khalifah tersebut harus dari seorang suku Quraisy.

Abu Bakar Siddiq (mertua Rasul - ayah dari Ummul-Mu'minin 'Aisyah), menengahi perdebatan tersebut dengan mengajukan beberapa sabda Nabi yang menyatakan satu keharusan untuk mendahulukan suku Quraisy dan tidak mendahuluinya, Abu Bakar juga mengingatkan akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh peperangan antara sesama sebagaimana yang pernah terjadi pada masa lalu antara kaum 'Aus dan Kharaj [akibat intrik kaum Ahli kitab dan Yahudi] sembari menawarkan dua orang tokoh dari suku Quraisy yaitu Umar bin Khatab (juga Mertua Rasul - ayah dari Ummul-Mu'minin Hafshah) dan Abu Ubaidah.

Pencalonan dirinya oleh Abu Bakar ini ditolak oleh Umar Bin Khatab dan sebaliknya beliau malah menunjuk Abu Bakar sendiri untuk menempati posisi kekhalifahan tersebut dengan berbagai argumennya (yang salah satunya bahwa pada saat-saat terakhir kehidupannya, Nabi Muhammad Saw telah meminta Abu Bakar untuk menggantikan beliau sebagai imam shalat).

Penunjukan Abu Bakar sebagai Khalifah Ar-Rasul pertama disetujui oleh sebagian besar sahabat seperti Abu Ubaidah, Basyir bin Sa'ad dan lain sebagainya.

Namun disisi lainnya, pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah ini tidak mendapatkan dukungan dari Fatimah Az-Zahra (putri Nabi dari Khadijjah - istri pertama beliau) dan juga dari Ali Bin Abu Thalib (Keponakan sekaligus menantu Nabi - suami dari Fatimah) ditambah pula oleh Sa'ad bin Ubaidah, Bani Hasyim serta pengikutnya selama enam bulan kemudian sampai pada wafatnya Fatimah.

Pada saat berlangsungnya peristiwa Saqifah, Ali bin Abu Thalib sedang mengurus jenazah Nabi. Dia tidak mengetahui adanya pertemuan itu. Yang dia ketahui adalah bahwa Abu Bakar telah terpilih. Beberapa sahabat lainnya memandang bahwa Ali Bin Abu Thalib inilah yang sebenarnya lebih berhak dijadikan Khalifah Ar-Rasul.

Para sahabat ini mengeluarkan argumennya bahwa dalam suku Quraisy, Bani Hasyim dan Bani Umayyah adalah dua suku terhormat. Dan Ali merupakan pemuda dari Bani Hasyim yang terhormat dan dekat pula dengan Nabi semasa hidupnya.

Tokoh lainnya yang pantas untuk menduduki jabatan Khalifah adalah Hamzah Bin Abdul Muthalib (paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah), hanya sayangnya pada saat itu Hamzah Bin Abdul Muthalib telah wafat pada peperangan Uhud ditangan seorang budak bernama Wahsyi yang dijanjikan kebebasannya oleh Hindun Binti 'Utba.

Selain Hamzah, terdapat pula paman Nabi yang lain yang masih hidup yaitu Abbas bin Abdul Muthalib tetapi karena Abbas ini baru masuk Islam, maka seharusnya menurut mereka Ali Bin Abu Thalib lah yang berhak.

Pada awal pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah pertama itu juga, Abu Sufyan menawarkan bantuan kepada Ali bin Abu Thalib untuk merebut kekuasaan dari Abu Bakar, tapi tawaran Abu Sufyan ini ditolak oleh Ali Bin Abu Thalib dengan arif dan bijaksana demi menjaga keutuhan umat. Pada masa berikutnya, Ali Bin Abu Thalib memberikan bantuan dan sokongannya kepada pemerintahan Abu Bakar.

Dalam buku Nahjul Balaghah Juz 1, halaman 182 dituliskan perkataan Ali Bin Abu Thalib r.a,

"Tinggalkanlah aku dan carilah orang lain, karena kita menghadapi persoalan yang amat kompleks. Dan ketahuilah, jika aku menjawab permintaan kalian, aku hanya akan mengikuti apa yang aku ketahui, dan aku tidak akan mendengarkan pendapat orang yang berpendapat dan celaan orang yang mencela. Sebaliknya, jika kalian meninggalkan aku, maka aku akan menjadi rakyat biasa seperti kalian. Semoga aku mendengar dan taat kepada siapapun yang kalian percayai untuk memimpin kalian. Lebih baik bagi kalian jika aku menjadi wazir (pembantu) dari pada menjadi Amir (Pemimpin)."

Dalam buku yang sama, yaitu pada juz ke-3 halaman 8 diterangkan pernyataan Ali Bin Abu Thalib r.a mengenai keabsahan dunia kekhalifahan pimpinan Abu Bakar r.a

"Sesungguhnya bai'at itu hanya sekali, tidak boleh ada alternatif kedua dan tidak diizinkan memilih (berbai'at atau tidak berbaiat). Barang siapa keluar dari padanya, ia telah berbuat kejahatan dan barang siapa menolaknya, ia telah berkhianat."

Ali r.a juga menegaskan

"Demi agamaku, andaikata imamah tidak dapat terlaksana kecuali dengan dihadiri seluruh rakyat, maka hal itu akan sulit terjadi. Namun cukuplah penduduk yang hadir menentukan pilihan bagi mereka yang tidak hadir. Setelah itu tidak ada alasan bagi mereka yang hadir untuk menolak bai'at dan tidak ada alasan pula bagi yang tidak hadir untuk memilih." (Nahjul Balaghah juz 2 halaman 86).

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, orang-orang Nejeb dan Yaman menyatakan diri murtad dari Islam dan mengikuti Musailamah AlKazhab yang mengaku sebagi Nabi, padahal seperti yang sudah disabdakan oleh beliau Saw sendiri, sesudahnya tidak akan ada lagi Nabi yang diutus oleh Allah untuk manusia [QS. 33:40]

Gerakan Musailamah AlKazhab ini kian harinya semakin merusak Islam, menimbulkan fitnahan dan semacamnya terhadap risalah Tauhid Ilahi, dan ini mendorong Khalifah Abu Bakar untuk segera mengambil tindakan tegas. Terjadilah pertempuran fisik di Yamamah pada tahun 12 Hijriah yang menyebabkan 70 orang sahabat yang hafal AlQur'an gugur sebagai syuhada.

Hal ini menimbulkan keprihatinan kepada Umar Bin Khatab, dan atas inisiatifnya, beliau menyarankan kepada Khalifah Abu Bakar untuk segera membukukan secara tertulis semua ayat AlQur'an berdasarkan hafalan semua sahabat dan juga catatan -catatan mereka selagi Nabi masih hidup menjadi satu buku, sehingga dengan begitu, apabila kelak kembali terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, AlQur'an akan 'tetap hidup' dan satu meski para penghafalnya sudah tiada.

Saran Umar ini disetujui oleh Khalifah, dan dibentuklah suatu panitia yang diketuai oleh Zaid Bin Tsabit, dengan dibantu oleh Ali Bin Abu Thalib, Usman Bin Affan dan Ubay Bin Ka'ab yang kesemuanya itu adalah para penulis wahyu AlQur'an dan sekertaris Nabi Muhammad semasa hidupnya dan telah diuji oleh Nabi sendiri hafalannya dengan disaksikan oleh semua kaum Muslimin.

Tugas pembukuan AlQur'an tersebut dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu tahun, kemudian mushaf Qur'an ini diserahkan kepada Abu Bakar untuk disimpan.

Nama asli dari Khalifah Abu Bakar Siddiq adalah Abdullah Bin Abu Kuhafa dari Bani Taim Ibni Murra, berusia 2 tahun lebih muda dari Nabi Muhammad Saw.

Dialah yang menemani Rasulullah dalam perjalanannya hijrah ke Yatsrib (Madinah), dan menemani beliau ketika berada dalam Gua Tsur untuk menghindari kejaran Abu Jahal dan para kafir Quraisy (hal ini juga tercatat dalam AlQur'an Surah At-Taubah ayat ke-40).

Gelar Siddiq (orang yang percaya) diperolehnya langsung dari Nabi Muhammad Saw ketika beliau membenarkan semua yang diceritakan oleh Baginda Rasul mengenai pengalaman Mi'rajnya[1] keplanet Muntaha disaat orang lain banyak yang mendustakannya.

Pada masa Kekhalifahan Umar Bin Khatab Islam terus menyebar ke Armenia dan Azerbaijan timur serta Tripoli barat. Dengan demikian Islam sudah tersebar sampai ke Suriah dan Palestina yang kala itu menjadi bagian kekaisaran Byzantium, terus ke Turki, Mesir, Iraq, Iran hingga Persia dan menyebrang ke Afrika Utara.

Khalifah Umar Bin Khatab juga yang membangun Masjidil-Aqsa (637M/?) dikota Yerusalem yang artinya The City of the Temple dalam bentuk yang sangat sederhana, terdiri dari empat buah tembok berbentuk persegi, yang cukup luas untuk menampung 3000 umat untuk bersembahyang. Letaknya dipelataran Kuil Raja Herodes (Herod's Temple) yang luas. Herod's Temple ini juga berada dalam satu area dengan sisa-sisa puing Kuil Nabi Sulaiman as.

Pelataran ini letaknya agak tinggi sehingga orang mesti memanjat untuk dapat berada disana. Ketika Khalifah Umar datang berkunjung, pelataran ini merupakan tempat burung-burung buang hajat dan pembuangan sampah kota Yerusalem yang tidak terpelihara.

Khalifah Umar Bin Khatab Alfaruq dan pengikutnya membersihkan pelataran ini dan membangun cikal-bakal Masjidil-Aqsa di salah satu sudutnya (bagian selatan). Mesdjid Umar ini kemudian diperbaiki dan diperluas menjadi Masjidil-Aqsa seperti yang ada sekarang. Ada lagi bangunan yang lebih besar dari Masdjid Al-Aqsa yaitu The Dome of Rock yang terletak diseberangnya. Mesdjid Al-Aqsa mempunyai kubah (dome) berwarna perak sedangkan The Dome of Rock berwarna Emas. The Dome of Rock ini mulai dibangun pada thn 688 oleh Abdul Malik, Khalifah yang memerintah saat itu.

Keagungan Umar Bin Khatab tercatat dalam sejarah kemanusiaan sebagai orang besar nomor dua setelah Nabi Muhammad Saw yang berhasil memperjuangkan dan menyebarkan Islam kepada manusia. Namanya juga tercatat dalam urutan ke-51 setelah Poper Urban II dan sebelum Asoka bahkan sebelum nama Julius Caesar pada buku Seratus Tokoh Michael H. Hart dengan Rasulullah Saw sebagai tokoh yang berada pada urutan pertama.

Terhadap Khalifah Umar Bin Khatab r.a, Ali Bin Abu Thalib berkata :

"Sungguh Allah telah memberikan kehebatan kepada Umar. Dia telah meluruskan tujuan dan mengatasi musibah. Ia perbaiki kerusakan dan ia tegakkan sunnah. Ia pelihara kesucian diri dan aibnya. Ia telah mendapatkan kebaikan dari dirinya dan mengalahkan kejahatan nafsunya.

Telah ia tunaikan ketaatan terhadap Tuhannya dan ia jaga ketaatan itu dengan sebenar-benarnya. Ia telah pergi dengan meninggalkan bagi umatnya jalan-jalan bercabang banyak yang sulit bagi orang yang tersesat untuk menemukan jalan (melakukan kejahatan) dan orang yang mendapat petunjuk pun tidak merasa pasti (akan keadaan umat sepeninggalnya)." (Nahjul Balaghah Juz. 2 halaman 222).


Umar Bin Khatab termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat.

Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.

Pengangkatan Usman Bin Affan (menantu Nabi yang digelari juga dengan nama Zun Nuraini karena menikahi 2 putri Nabi yaitu Ruqayah dan Ummu Kalsum) sebagai Khalifah ketiga pengganti Khalifah Umar mendapatkan pro dan kontra dari beberapa kalangan sementara Ali Bin Abu Thalib sendiri justru mendukung keKhalifahan Usman yang diperoleh dari hasil musyawarah ini.

Dalam Nahjul Balaghah juz 2 halaman 48 disebutkan pernyataan Ali terhadap Usman.

"Sesungguhnya ada banyak orang dibelakangku dan mereka meminta aku menemuimu untuk menyampaikan keluhan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadamu, tidak ada sesuatu yang kuketahui yang tidak engkau ketahui. Tidak ada pula suatu perkara yang perlu aku tunjukkan karena engkau tidak mengetahuinya.


Sesungguhnya engkau tahu apa yang kami tahu, dan tidak ada sesuatu yang kami lebih dulu tahu sehingga perlu kami beritahukan kepadamu. Tidak pula ada sesuatu yang hanya kami mengetahuinya yang perlu kami sampaikan kepadamu. Sungguh telah engkau ketahui apa yang kami ketahui, dan engkau dengar apa yang kami dengar, dan engkau temani Rasulullah sebagaimana beliau kami temani.

Tidaklah Ibnu Abu Quhafah (Abu Bakar) ataupun Umar lebih utama darimu untuk menegakkan kebenaran, sementara engkau lebih dekat kekeluargaanmu dengan Rasulullah daripada mereka berdua. Engkau telah menjadi menantunya, sedang mereka tidak demikian. Hati-hatilah engkau dengan dirimu sendiri. Demi Allah, sungguh engkau bukanlah orang yang dapat melihat karena terlepas dari kebutaan dan bukan pula orang yang berilmu karena terlepas dari kebodohan."

Pada masa Khalifah Usman Bin Affan, atas inisiatif Hudzaifah Bin Yaman, salah seorang sahabat dekat Rasulullah, menyarankan kepada Khalifah Usman agar segera mengusahakan keseragaman bacaan AlQur'an dengan jalan menyeragamkan penulisan AlQur'an diantara bangsa-bangsa Islam yang semakin besar dan menyebar.

Penggandaan yang dilakukan oleh Khalifah Usman Bin Affan itu sendiri berdasarkan AlQur'an yang telah dibukukan oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan disimpan oleh Hafshah Bin Umar Bin Khatab dengan tetap dibawah pimpinan Zaid Bin Tsabit.

Pada masa kekhalifahan Usman bin Affan ini juga, Kaisar Kao Tsung dari daratan Tiongkok pernah mengirimkan perutusan ke Madinah karena mengagumi atas munculnya 'kerajaan baru' dan mempunyai pedoman agama yang kuat. Misi persahabatan ini dibalas oleh Khalifah Usman Bin Affan dengan mengirimkan misi persahabatan pula ke Tiongkok.

Setelah kewafatan Khalifah Usman Bin Affan dari Bani Umayyah, Ali Bin Abu Thalib naik menjadi Khalifah ke-4 menggantikannya dan memindahkan pusat pemerintahan ke Kufah, Irak.


Ali Bin Abu Thalib terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khatab r.a., Ali bin Abi Thalib pun terkenal keberaniannya didalam peperangan. Beliau sudah mengikuti Rasulullah sejak kecil dan hidup bersamanya sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga wafatnya.

Naiknya Ali Bin Abu Thalib sebagai Khalifah adalah atas desakan sebagian besar penduduk Madinah yang waktu itu sedang berada dalam kekacauan akibat terbunuhnya Khalifah Usman Bin Affan. Selama hampir lima tahun Ali Bin Abu Thalib memerintah dalam situasi negara yang tidak stabil. Keadaan tersebut sebenarnya telah diwarisi sejak tahun-tahun terakhir pemerintahan Khalifah Usman.

Setelah Ali Bin Abu Thalib berkuasa, beberapa orang sahabat meminta kepadanya agar segera menghukum orang-orang yang diduga menjadi pembunuh Khalifah Usman. Namun permintaan tersebut tidak dapat dikabulkan oleh Khalifah Ali karena belum jelas siapa oknum sebenarnya yang telah melakukan pembunuhan tersebut.

Hal tersebut membuat kecewa Thalhah dan Zubayr, r.a, sehingga mereka membujuk Ummul-Mu'minin 'Aisyah r.a, untuk mengangkat senjata kepada Khalifah dan menarik kembali pernyataan Bai'at mereka kepadanya. Ibnu Al-Asir mencatat sejumlah delapan belas orang yang enggan berba'iat diantara mereka terdapat Sa'ad Bin Abi Waqqas yang pada masanya menjadi penakluk Parsi, Ibnu 'Umar, Usamah dan Zaid Bin Tsabit (Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk memata-matai gerakan musuh)

Itulah perang Jamal atau perang Onta, tahun 36 H. -disebut demikian karena 'Aisyah memimpin pasukan dari punggung onta. Atas perlawanan para sahabat dan Mertua tirinya itu, Khalifah Ali Bin Abu Thalib tidak melakukan tindakan represif melainkan mengirimkan utusan (yaitu Qa'qa bin Amr r.a) kepada istri Nabi tersebut untuk mencari jalan damai.

Utusan Khalifah tersebut disambut oleh Thalhah dan Zubayr yang tetap menginginkan Khalifah melakukan tindakan tegas terhadap oknum pembunuhan Khalifah Usman.

"Kami menginginkan para pembunuh Utsman (untuk di Qishas). Yang demikian kalau kita tinggalkan berarti kita meninggalkan AIQur'an. Dan jika kita melaksanakannya berarti kita menghidupkan AI-Qur'an."

Setelah usaha perdamaian itu gagal, Khalifah Ali terpaksa mengadakan perlawanan terhadap para sahabat dan mertua tirinya itu sehingga menyebabkan kalahnya pasukan Ummul Mu'minin 'Aisyah ra,

Dan dengan kearifannya Khalifah Ali mengamanatkan pasukannya agar menghormati Ummul-Mu'minin itu dan mengembalikannya ke Madinah dengan penuh penghormatan dan perlindungan.

Khalifah Ali bin Abu Thalib telah membersihkan atau mengembalikan nama baik Sayyidah 'Aisyah dari kesalahannya memimpin perang terhadapnya. Posisi Ali yang pada waktu itu sebagai seorang Imam atau Khalifah memungkinkan beliau untuk melakukannya.

Tercatat dalam Nahjul Balaghah juz 2 halaman 48 mengenai status 'Aisyah dihadapan Khalifah Ali Bin Abu Thalib r.a

"Dan baginya kehormatannya seperti semula (sebelum terjun kemedan perang), adapun perhitungan atas amalnya adalah ditangan Allah Ta'ala"


Pada peperangan Jamal itu, Thalhah bin Abdullah dan Zubayr Bin 'Awaam gugur terbunuh. Thalhah Bin Abdullah ra. masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra. Selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar. Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah Saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah gugur dalam peperangan Jamal dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.

Sementara Zubair Bin Awaam r.a, memeluk Islam juga berkat Abu Bakar Siddiq ra. Dia ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan bersama Nabi Saw. Saat gugur dalam perang Jamal, beliau berusia 63 tahun dan dikuburkan di Basrah.

Pecahnya perang antara para sahabatnya tersebut pernah diramalkan oleh Rasulullah Saw. Diriwayatkan, ketika Zubayr tengah mengiringi Nabi Saw berjalan, dan bertemu Ali r.a., Zubayr tersenyum ramah kepada Ali. Lalu Nabi bertanya: "Seberapa besar cintamu kepada Ali ?" "Ya Rasulullah," Jawab ipar 'Aisyah itu. "Demi ayah dan ibuku, aku mencintainya sebesar cintaku kepada ayah dan ibuku atau malah lebih besar lagi." Tetapi, sahut Nabi: "Lalu bagaimana kalau engkau kelak beranjak memeranginya ?" (Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, II:153)

Sebenarnya, baik 'Aisyah, Thalhah maupun Zubayr r.a sendiri sebelumnya merasa enggan untuk mengadakan perlawanan senjata kepada Khalifah Ali Bin Abu Thalib, hal ini tercantum dalam Tarikhur At-Thabari Juz 4 fil fitnah 211.- Tabqiq Mawaqifus Shah'ahab.

Orang-orang yang pernah dekat dengan Nabi Saw semasa hidupnya tersebut hanya menginginkan berjalannya hukum Allah atas pembunuhan Khalifah Usman sebagaimana yang tertuang dalam AlQur'an surah Al Israa :
"Dan barangsiapa yang dibunuh secara zalim, maka seseungguhnya Kami telah memberi kekuasaan pada walinya (untuk menuntut bela) tapi janganlah melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan." (Al-Isra 17:33)

Berperang melawan Ali Bin Abu Thalib, lebih-lebih lagi dengan posisinya sebagai seorang Khalifah adalah satu beban moral tersendiri, selain karena dekatnya sang Khalifah ini kepada Nabi sepanjang hidupnya, juga sewaktu hendak berangkat dalam perang Tabuk, Nabi Muhammad Saw pernah menyamakan kedudukan Ali Bin Abu Thalib terhadap dirinya adalah seperti kedudukan Nabi Harun dengan Nabi Musa as.

"Kedudukanmu padaku seperti kedudukan Harun pada Musa, tapi sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku." (HR. Bukhari & Muslim)

Dimasa pemerintahan Khalifah Ali Bin Abu Thalib ini juga pecah peperangan melawan pemberontakan Mu'awiyah, seorang gubernur dari Damaskus yang ingin menuntut bela atas kematian Khalifah Usman yang masih ada hubungan keluarga dengan dirinya, peperangan tersebut terkenal dengan nama perang "Shiffien".

Perseteruan antara Muawiyyah dan Khalifah Ali ini pada awalnya tidak melibatkan perebutan bangku kekuasaan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

"Dan Muawiyyah radhiallahu anhu tidak mengaku khalifah dan belum berbaiat kepada Ali ketika memeranginya. Dia tidak melawan Ali sebagai khalifah, dan tidak juga dia mengaku berhak sebagai khalifah bahkan mengakui bahwa Ali lebih berhak untuk itu, bahkan mengikrarkan demikian ketika ditanya tentangnya." (Fatwa Ibnu Taimiyah juz 35 hal. 72)

Muawiyyah pernah menjadi pencatat wahyu di zaman Rasulullah Saw. Beliau menjadi Gubernur Syam yang dipilih dan diangkat oleh Khalifah Umar Bin Khatab dan diteruskan pada masa pemerintahan Khalifah Usman radh'allahu anhu.

Tentang masalah kemewahan, beliau pemah ditegur oleh Khalifah Umar bin AI-Khattab radhiallahu anhu dan Muawiyyah menjawab bahwa itu merupakan politik atau cara Muawiyyah dalam memuliakan Islam di hadapan musuh-musuhnya. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Ketika Khalifah Umar tengah berkunjung keSyam dan menyaksikan gaya hidup Muawiyyah, beliau menegur dan mengatakan:

"mengapa engkau berbuat demikian ? sunguh aku sangat ingin menyuruh engkau hijaz dengan bertelanjang kaki." Maka Muawiyyah menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kami berada di bumi (daerah) yang penuh mata-mata musuh. Maka kita mesti menunjukkan kemuliaan penguasa Islam, yang berarti juga ke'muliaan Islam dan kaum muslimin sehingga menakuti mereka (musuh) dengannya. Kalau engkau perintahkan aku (dengan sesuatu) aku akan mengerjakannya dan kalau engkau larang aku, aku akan berhenti."

Demikianlah jawaban Muawiyyah kepada Umar bin Khatab, hingga akhirnya beliau (Umar) mengatakan: "Jika itu benar, itu pendapatmu, dan jika itu bathil, maka itu tipudayamu !" Maka berkata Muawiyyah: "Wahal Amirul Mukminin, perintahkanlah sesuatu padaku." Beliau (Khalifah Umar Bin Khatab) menjawab: "Aku tidak menyuruhmu dan tidak melarangmu." (Al-Bidayah wan Nibayab 8/ 124-125, lihat Syubbat haulas shahahah hal. 20 oleh Muhammad Maalullah)

Pada akhirnya, Muawiyyah menganggap Khalifah Ali melindungi pembunuh Khalifah Usman dan mulai mengobarkan peperangan terhadapnya dan menyatakan bahwa Ali tidak layak untuk menjadi pemimpin karena tidak dapat bersikap tegas dan dengan begitu Muawiyyah mulai menyinggung masalah tampuk kepemimpinan keKhalifahan.

Dalam peperangan melawan Mu'awiyah bin Abu Sufyan ini pasukan Khalifah Ali di bawah pimpinan Abu Musa Al-As'ari sudah akan berhasil mengalahkan pasukan Mu'awiyyah di bawah pimpinan Amr Ibn 'Ash. Namun karena siasat Amr Ibn 'Ash yang mengacungkan mushaf al-Qur'an diujung tombaknya sebagai tanda perdamaian, Abu Musa Al-As'ari menghentikan peperangannya. Khalifah Ali r.a. pun setuju diadakannya perdamaian itu.

Tindakan Khalifah yang lebih mementingkan ukhuwah dan perdamain ini menimbulkan pro dan kontra pasukannya. Perpecahan itu semakin tajam setelah ternyata perdamaian itu dianggap tidak fair dan menguntungkan kubu pasukan Mu'awiyyah. Sejarah kemudian mencatat bahwa pasukan Mu'awiyyah dapat mengalahkan pasukan Khalifah Ali.

Pasukan Ali yang tidak menyetujui perdamaian itu bereaksi keras dengan menyatakan keluar dari kubu Ali, sehingga mereka dikenal dengan sebutan kaum Khawarij (yang secara harfiah berarti golongan luar) disebut begitu karena mereka memisahkan diri dari masyarakat akibat dari perselisihan Muawiyyah dan Khalifah Ali. Kaum Khawarij ini lalu mengembangkan theologi tersendiri.

Mereka mempertahankan pendapat bahwa arbitrasi itu seharusnya tidak pernah terjadi dan bahwa arbitrasi dalam agresi bertentangan dengan ketentuan Al-Qur'an.

Sebaliknya golongan yang setuju dengan sikap Khalifah Ali tidak menerima pernyataan kelompok Khawarij ini dan mereka tetap setia kepada Khalifah dan bahkan beberapa diantaranya sampai ada yang mengkultuskannya hingga sesat sesesatnya.

Kaum Khawarij menuduh sebagian besar sahabat yang termasyur sebagai kafir, termasuk Khalifah Usman, Khalifah Ali, Thalhah dan Zubayr dan memperbolehkan mengadakan perlawanan terhadap mereka. (Al-Syawkani, Nayl Al-Awthar, VII, 190, el-Awa, The Political System, hlm. 56, Isma'il, Manhaj, hlm. 319)

Kaum Khawarij ini pun mempertanyakan keabsahan keKhalifahan Ali karena beliau menyetujui arbitrasi. Proses dan hasil arbitrasi itu dikisahkan dan diinterpretasikan secara bervariasi, namun kaum Khawarij tetap mencela arbitrasi itu dan menyatakan bahwa pertempuran melawan Muawiyyah harus dilanjutkan sampai permasalahannya diputuskan berdasarkan prinsip-prinsip yang benar.

Diriwayatkan sekitar 8000 orang Khawarij menentang keputusan Khalifah Ali mengenai arbitrasi dengan Muawiyyah, namun sebagaimana perlakuannya terhadap para sahabatnya dalam peperangan Jamal, Khalifah Ali kali ini juga tidak mengambil langkah kekerasan, sebaliknya beliau mengirim seorang sahabat bernama Ibnu Abbas untuk membicarakan perbedaan-perbedaan mereka secara damai.


Sekitar 4000 orang Khawarij berhasil dibujuk untuk kembali, dan Khalifah juga meminta yang lain untuk kembali tetapi mereka menolak. Dengan kearifannya, Ali bin Abu Thalib mengirimkan pesan kepada mereka :

"Kalian boleh bertahan sebagaimana yang kalian inginkan dan kami tidak akan mengobarkan peperangan selama kalian menghindari pertumpahan darah, penipuan dan tindakan-tindakan diluar hukum serta kecurangan. Tetapi jika kalian melakukan salah satu perbuatan tersebut, kami akan memerangi kalian". (Al-Syawkani, Nayl Al-Awthar, VII, 187, lihat juga Al-'Illi, Al-Hurriyat, hlm. 384)

Akan tetapi kebijaksanaan Khalifah Ali ini dilanggar oleh kaum Khawarij dengan pembunuhan terhadap gubernur Nahrawan Khabbab bin Al Art. Khalifah meminta kaum Khawarij menyerahkan sipembunuh kepada pengadilan. Tetapi mereka menolaknya dan menjawab bahwa itu adalah aksi yang dilakukan secara bersama-sama.

Jadi mereka menolak untuk mematuhi Khalifah dan menantang otoritasnya secara terbuka. Oleh karena itu Khalifah Ali mengumumkan perang melawan mereka dan berhasil mengalahkan mereka di Nahrawan.

Salah seorang pengikut Khalifah pernah melontarkan kecaman kepada Khalifah :
"Dahulu, ketika Abu Bakar dan Umar memerintah, tidak terjadi perpecahan Islam seperti sekarang, tapi berbeda ketika engkau memerintah." Kecaman ini dibalas oleh Khalifah : "Dahulu Abu Bakar dan Umar memerintah orang seperti aku; sedangkan sekarang aku memerintah orang seperti kamu !"
Nahjul Balghah juz 2 halaman 184 menceritakan pernyataan Ali Bin ABu Thalib

"Demi Allah. aku sama sekali tidak memiliki keinginan memikul jabatan khilafah ataupun wilayah, akan tetapi kalianlah yang memanggil aku dan membawaku kepadanya. Ketika aku menerima tugas itu, aku mengikuti petunjuk Kitabullah dan segala yang telah ditetapkan Allah. Akupun meneladani segala yang disunnahkan oleh Rasul-Nya."

Sementara itu akhir dari peperangan Khalifah Ali dengan gubernur Syam Muawiyyah yang berlangsung selama 50 tahun menghasilkan kekalahan terhadap Khalifah.

Pada hari Asyura, telah terjadi pembantaian secara biadab terhadap cucu kesayangan Rasulullah Saw, Hasan dan Husien beserta keluarganya di padang Karbala oleh Yazid putra Muawiyyah.

Beberapa sahabat terdekat Nabi Saw juga mendapatkan perlakuan biadab dari Muawiyah dan pengikutnya, diantaranya adalah Muhammad putra Khalifah Abu Bakar Siddiq r.a, (setelah dibunuh jasadnya dimasukkan ke dalam bangkai himar lalu dibakar), Amr bin Hamk (setelah digigit ular kepalanya dipotong dan diarak keliling lalu dilemparkan ke pangkuan isterinya), Hujur ibn 'Adi (dibunuh karena tidak mau melaknat Khalifah Ali), Abdurrahaman bin Hasan (dikubur hidup-hidup).

Kubu Mu'awiyyah dari Bani Umayyah yang memenangkan peperangan merasa berkepentingan untuk mempertahankan status quonya. Karenanya mereka mengembangkan paham theologi Jabariyah kepada kaum muslimin. Menurut faham ini ummat Islam harus pasrah kepada nasib dan tunduk kepada pemimpin mereka karena semua itu adalah ketetapan ('qada) dari Allah.

Muhammad Ibn Ali al-Hanafiyyah, salah seorang putra Khalifah Ali Bin Abu Thalib menentang faham ini dengan menawarkan faham Qadariyyah. Pemikiran ini merupakan cikal-bakal lahinya faham Mu'tazilah yang dicetuskan oleh Ibn 'Atha', salah seorang murid Muhammad Ibn Ali al-Hanafiyyah. Faham ini menyatakan setiap manusia memiliki kebebasan penuh untuk menentukan nasibnya sendiri.

Perbedaan faham theologi (aqidah) yang bermula dari pertentangan politik itu ternyata menjalar ke aspek-aspek lain termasuk syari'ah, muamalah, syiasah, dsb.

Diambil dari berbagai sumber, diantaranya

--------------------------------------------------------------------
Dr. Musa Al Musawi ; Meluruskan Penyimpangan Syi'ah
Jalaludin Rakhmat; Islam Aktual
Muhammad Husain Haekal; Sejarah Hidup Muhammad
Dan lain sebagainya ...


sumber: milis eramuslim.net

Tuesday, February 15, 2005

Perjuangan

Perjuangan, Keputusan, dan Tanggung Jawab
Kekuatan diri adalah kekuatan yang lahir dari dalam diri pribadi kita. Kalau menurut pengalaman sejumlah orang berprestasi di bidangnya dan pendapat para pakar SDM, kekuatan diri ini bisa bermacam-macam bentuknya tetapi mengacu pada sebuah poin penting berikut ini.
Arnold Schwarzenegger menyimpulkan bahwa kekuatan itu tidak didapat dari kemenangan (winning) misalnya saja kekuasaan, kekayaan atau keahlian tetapi dari perjuangan meraih kemenangan itu. “Ketika kamu terus berjuang melawan rintangan dan bersumpah tidak akan menyerah, maka itulah kekuatan”. Kalau kita menang lalu kemenangan itu akan membuat kita kuat, tentu ini sudah pasti, tetapi adakah kemenangan yang diraih oleh lemahanya perjuangan?
Perjuangan (baca: Usaha) akan membuat orang dari yang semula bukan apa-apa berubah menjadi apa-apa; mengubah seseorang dari yang semula tidak memiliki apa-apa menjadi memiliki apa yang diinginkan. Sebaliknya tanpa kekuatan dan perjuangan akan membuat orang yang semula memiliki, berubah menjadi tidak memiliki; mengubah orang yang semula ‘menjadi’ ke tidak menjadi.
Kekuatan diri juga mengacu pada kekuatan keputusan hidup. Semua orang pada dasarnya sudah mengambil keputusan untuk hidupnya dan sepanjang hidupnya. Tetapi, ada keputusan yang mencerminkan kekuatan diri dan ada pula keputusan yang mencerminkan kelemahan. Keputusan yang pertama adalah keputusan yang lahir dari dalam diri kita dengan kesadaran bahwa kita sedang memutuskan sesuatu; dengan pemahaman bahwa keputusan yang kita ambil tidak bertentangan dengan aspek ke-diri-an kita, kemampuan kita dan arah hidup yang kita tuju. Lao-Tzu menyimpulkan bahwa orang yang sudah menang melawan dirinya (baca: bisa menyuruh dan melarang) adalah orang yang punya kekuatan.
Sementara keputusan yang kedua adalah, keputusan yang didapat dengan cara menerima semua pendapat orang lain ATAU menolak semua pendapat orang lain. Menerima seluruhnya adalah kelemahan sedangkan menolak seluruhnya adalah kekerasan-kepala (stubborn) yang juga cermin dari kelemahan. Menerima dan menolak seluruhnya adalah cerminan dari keputusan yang bukan dengan kesadaran dan pemahaman dari dalam melainkan ikut-ikutan pada tawaran (stimuli) dari luar tanpa proses pengolahan di dalam, atau bisa jadi karena impulsivitas emosi. Sehingga, ketika keputusan itu dijalankan, perbuatan yang dilahirkan oleh keputusan itu biasanya bukanlah aksi (tindakan atas dasar niat) tetapi reaksi (tindakan tanpa niat).
Kekuatan diri juga bisa berbentuk tanggung jawab untuk mengambil, memilih dan melaksanakan tugas-tugas yang diperlukan untuk menjadi penyebab (sumber solusi) bagi diri kita. Memang, manusia lahir sebagai akibat dari kreativitas Tuhan. Namun kita pun diberi tugas untuk mengubah keadaan kita yang awalnya “hanya” sebagai akibat, menjadi sebab.
Sebenarnya, kita sudah diberi kemampuan untuk menjadikan tugas sebagai sebab, namun kemampuan itu masih bersifat laten (tidak actual/termanifestasikan). Kita sendiri yang harus menggali, mengasah dan mengembangkan kemampuan yang ada (potensi, prestasi, keahlian, ketrampilan), yang sejauh ini masih bersifat latent.
Agar kita tidak terlalu lama “menganggur” dan jadi “passive” dalam status “akibat”, adalah dengan mengubah paradigma berpikir kita, dan memperbaharui pemahaman diri – bahwa kita adalah penyebab. Konsekuensinya, kita harus makin bertanggung jawab pada hidup dan diri kita sendiri, karena kitalah yang menginginkan hidup ini menjadi lebih baik. Besar-kecilnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap perubahan status hidupnya, dari akibat menjadi penyebab – akan menentukan besar-kecilnya aksi serta usaha yang dikeluarkan untuk meraih prestasi. George Washington Carver menyimpulkan bahwa 99 % kegagalan, justru berasal dari sikap mental kita yang membiarkan diri ber-status “akibat”.
Selama kita tidak pernah mengaktifkan potensi itu menjadi prestasi atau pun kemampuan aktual, selama itu pula kita tidak akan pernah tahu kelebihan kita. Seperti yang dikatakan oleh Martina Grim bahwa kreasi yang kita hasilkan, sesungguhnya merupakan materi yang menunjukkan siapa diri kita. Selama kita menyalahkan orangtua, lembaga, atau lingkungan sebagai penyebab kelemahan kita, selama itu pula kita tidak pernah berusaha untuk memperkuat diri. Kathy Simmons dalam “EQ: What Smart Managers Know” (Executive Update: 2001) menyimpulkan bahwa kekuatan diri, akan selalu dibangun di atas keahlian dan kecerdasan emosional. Oleh sebab itu, manusia sebaiknya bersikap proaktif dalam menyambut dan mengambil tanggung jawab demi mengubah keadaan diri sendiri, dari sumber persoalan – menjadi sumber solusi.

Sungguh akan Kami Berikan Cobaan Kepadamu

oleh:Nadirsyah Hosen

Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar menghadapinya.

Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berdo'a: "Ya Tuhan kami, jangnlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya..."(QS 2: 286)

Do'a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah. Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke "orang pintar" agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke "kursi" yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sadaqoh.

Al-Qur'an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: "Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2: 155)

Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah....tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, "yah..sabar kan ada batasnya..." Atau lidah kita berseru, "sabar sih sabar...saya sih kuat tidak makan enak, tapi anak dan isteri saya?" Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.

Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". (Qs 2: 156)

Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat "Inna lillahi...." Orang sabar-kah kita? Nanti dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.

Arti kalimat itu adalah : "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali." Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Qur'an!

Ikhlaskah kita bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila proyek yang sudah didepan mata, tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dna diberikan kepada saingan kita. Berubah menjadi dengki-kah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru, mobil baru atau malah pacar baru. Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.... Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur'an: "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berkata: "Siapa yang tak rela menerima ketentuan-Ku, silahkan keluar dari bumi-Ku!"

Subhanallah..... "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"

Armidlae, 27 Agustus 1997

Sunday, February 13, 2005

Kerja lagi......?

libur yang weee....nak tenan,
lima hari hanya diem diri di kost,makan tidur,makan....tidur
abiznya mo keluar ujan terus,mo ke tempat sodara
jadualnya ga singkron.mo jalan2..........males
mo ikutan mabid ujan. yah paling enak diem diri renungin hidup dan ga kalah seru bongkar2 buku.

ternyata ada beberapa buku aku yang "raib" entah itu dipinjem ato aku yang lupa naru' aku dimbil dengan tanpa ijin...........?
ternya membuat katalog asyik juga sambil mengulas buku2 yag telah lewat.

and senin pun tiba.....
tapi ko' hawanya beda yah....udah bau bau ga enak alias bau kematian
yup betul tempat aku kerja bentar lagi mo TuTuP jadi hawa tu' kerja udah males n lagian apa juga yang mo di garap.

iya nich lagi tunggu hari yang udah lama ku nanti....
mungkin besok...
wendah mo kemana.....?
tunggu aja episode berikutnya yah


wassalam

SEJARAH PEMBENTUKAN MUSHAF AL-QUR'AN

(dikutip dari SEJARAH HIDUP MUHAMMAD
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL)

PENDAPAT MUIR


Sebenarnya apa yang diterangkan kaum Orientalis dalam hal ini cukup banyak. Tapi coba kita ambil apa yang ditulis oleh Sir William Muir dalam The Life of Mohammad supaya mereka yang sangat berlebih-lebihan dalam memandang sejarah dan dalam memandang diri mereka yang biasanya menerima begitu saja apa yang dikatakan orang tentang pemalsuan dan perubahan Qur'an itu, dapat melihat sendiri. Muir adalah seorang penganut Kristen yang teguh dan yang juga berdakwah untuk itu. Diapun ingin sekali tidak akan membiarkan setiap kesempatan melakukan kritik terhadap Nabi dan Qur'an, dan berusaha memperkuat kritiknya.

Ketika bicara tentang Qur'an dan akurasinya yang sampai kepada kita, Sir William Muir menyebutkan:

"Wahyu Ilahi itu adalah dasar rukun Islam. Membaca beberapa ayat merupakan bagian pokok dari sembahyang sehari-hari yang bersifat umum atau khusus. Melakukan pembacaan ini adalah wajib dan sunah, yang dalam arti agama adalah perbuatan baik yang akan mendapat pahala bagi yang melakukannya. Inilah sunah pertama yang sudah merupakan konsensus. Dan itu pula yang telah diberitakan oleh wahyu. Oleh karena itu yang hafal Qur'an di kalangan Muslimin yang mula-mula itu banyak sekali, kalau bukan semuanya. Sampai-sampai di antara mereka pada awal masa kekuasaan Islam itu ada yang dapat membaca sampai pada ciri-cirinya yang khas. Tradisi Arab telah membantu pula mempermudah pekerjaan ini. Kecintaan mereka luar biasa besarnya. Oleh karena untuk memburu segala yang datang dari para penyairnya tidak mudah dicapai, maka seperti dalam mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan nasab keturunan dan kabilah-kabilah mereka, sudah biasa pula mereka mencatat sajak-sajak itu dalam lembaran hati mereka sendiri. Oleh karena itu daya ingat (memori) mereka tumbuh dengan subur. Kemudian pada masa itu mereka menerima Qur'an dengan persiapan dan dengan jiwa yang hidup. Begitu kuatnya daya ingat sahabat-sahabat Nabi, disertai pula dengan kemauan yang luar biasa hendak nnenghafal Qur'an, sehingga mereka, bersama-sama dengan Nabi dapat mengulang kembali dengan ketelitian yang meyakinkan sekali segala yang diketahui dari pada Nabi sampai pada waktu mereka membacanya itu."

"Sungguhpun dengan tenaga yang sudah menjadi ciri khas daya ingatnya itu, kita juga bebas untuk tidak melepaskan kepercayaan kita bahwa kumpulan itu adalah satu-satunya sumber. Tetapi ada alasan kita yang akan membuat kita yakin, bahwa sahabat-sahabat Nabi menulis beberapa macam naskah selama masa hidupnya dari berbagai macam bagian dalam Qur'an. Dengan naskah-naskah inilah hampir seluruhnya Qur'an itu ditulis. Pada umumnya tulis-menulis di Mekah sudah dikenal orang jauh sebelum masa kerasulan Muhammad. Tidak hanya seorang saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan surat-surat itu. Tawanan perang Badr yang dapat mengajarkan tulis-menulis di Mekah sudah dikenal orang jauh sebelum masa kerasulan Muhammad. Tidak hanya seorang saja yang diminta oleh Nabi untuk menuliskan kitab-kitab dan surat-surat itu. Tawanan perang Badr yang dapat mengajarkan tulis-menulis kepada kaum Anshar di Medinah, sebagai imbalannya mereka dibebaskan. Meskipun penduduk Medinah dalam pendidikan tidak sepandai penduduk Mekah, namun banyak juga di antara mereka yang pandai tulis-menulis sejak sebelum Islam. Dengan adanya kepandaian menulis ini, mudah saja kita mengambil kesimpulan tanpa salah, bahwa ayat-ayat yang dihafal menurut ingatan yang sangat teliti itu, itu juga yang dituliskan dengan ketelitian yang sama pula."

"Kemudian kitapun mengetahui, bahwa Muhammad telah mengutus seorang sahabat atau lebih kepada kabilah-kabilah yang sudah menganut Islam, supaya mengajarkan Qur'an dan mendalami agama. Sering pula kita membaca, bahwa ada utusan-utusan yang pergi membawa perintah tertulis mengenai masalah-masalah agama itu. Sudah tentu mereka membawa apa yang diturunkan oleh wahyu, khususnya yang berhubungan dengan upacara-upacara dan peraturan-peraturan Islam serta apa yang harus dibaca selama melakukan ibadat."

PENULISAN QUR'AN PADA ZAMAN NABI

"Qur'an sendiripun menentukan adanya itu dalam bentuk tulisan. Begitu juga buku-buku sejarah sudah menentukan demikian, ketika menerangkan tentang Islamnya Umar, tentang adanya sebuah naskah Surat ke-20 [Surah Taha] milik saudaranya yang perempuan dan keluarganya. Umar masuk Islam tiga atau empat tahun sebelum Hijrah. Kalau pada masa permulaan Islam wahyu itu ditulis dan saling dipertukarkan, tatkala jumlah kaum Muslimin masih sedikit dan mengalami pelbagai macam siksaan, maka sudah dapat dipastikan sekali, bahwa naskah-naskah tertulis itu sudah banyak jumlahnya dan sudah banyak pula beredar, ketika Nabi sudah mencapai puncak kekuasaannya dan kitab itu sudah menjadi undang-undang seluruh bangsa Arab."

BILA BERSELISIH KEMBALI KEPADA NABI

"Demikian halnya Qur'an itu semasa hidup Nabi, dan demikian juga halnya kemudian sesudah Nabi wafat; tetap tercantum dalam kalbu kaum mukmin. Berbagai macam bagiannya sudah tercatat belaka dalam naskah-naskah yang makin hari makin bertambah jumlahnya itu. Kedua sumber itu sudah seharusnya benar-benar cocok. Pada waktu itu pun Qur'an sudah sangat dilindungi sekali, meskipun pada masa Nabi masih hidup, dengan keyakinan yang luarbiasa bahwa itu adalah kalam Allah. Oleh karena itu setiap ada perselisihan mengenai isinya, untuk menghindarkan adanya perselisihan demikian itu, selalu dibawa kepada Nabi sendiri. Dalam hal ini ada beberapa contoh pada kita: 'Amr bin Mas'ud dan Ubayy bin Ka'b membawa hal itu kepada Nabi. Sesudah Nabi wafat, bila ada perselisihan, selalu kembali kepada teks yang sudah tertulis dan kepada ingatan sahabat-sahabat Nabi yang terdekat serta penulis-penulis wahyu."

PENGUMPULAN QUR'AN LANGKAH PERTAMA

"Sesudah selesai menghadapi peristiwa Musailima - dalam perang Ridda - penyembelihan Yamama telah menyebabkan kaum Muslimin banyak yang mati, di antaranya tidak sedikit mereka yang telah menghafal Qur'an dengan baik. Ketika itu Umar merasa kuatir akan nasib Qur'an dan teksnya itu; mungkin nanti akan menimbulkan keragu-raguan orang bila mereka yang telah menyimpannya dalam ingatan itu, mengalami suatu hal lalu meninggal semua. Waktu itulah ia pergi menemui Khalifah Abu Bakr dengan mengatakan: "Saya kuatir sekali pembunuhan terhadap mereka yang sudah hafal Qur'an itu akan terjadi lagi di medan pertempuran lain selain Yamama dan akan banyak lagi dari mereka yang akan hilang. Menurut hemat saya, cepat-cepatlah kita bertindak dengan memerintahkan pengumpulan Qur'an."

"Abu Bakr segera menyetujui pendapat itu. Dengan maksud tersebut ia berkata kepada Zaid bin Thabit, salah seorang Sekretaris Nabi yang besar: "Engkau pemuda yang cerdas dan saya tidak meragukan kau. Engkau adalah penulis wahyu pada Rasulullah s.a.w. dan kau mengikuti Qur'an itu; maka sekarang kumpulkanlah.''

"Oleh karena pekerjaan ini terasa tiba-tiba sekali di luar dugaan, mula-mula Zaid gelisah sekali. Ia masih meragukan gunanya melakukan hal itu dan tidak pula menyuruh orang lain melakukannya. Akan tetapi akhirnya ia mengalah juga pada kehendak Abu Bakr dan Umar yang begitu mendesak. Dia mulai berusaha sungguh-sungguh mengumpulkan surah-surah dan bagian-bagiannya dari segenap penjuru, sampai dapat juga ia mengumpulkan yang tadinya di atas daun-daunan, di atas batu putih, dan yang dihafal orang. Setengahnya ada yang menambahkan, bahwa dia juga mengumpulkannya dari yang ada pada lembaran-lembaran, tulang-tulang bahu dan rusuk unta dan kambing. Usaha Zaid ini mendapat sukses."

"Ia melakukan itu selama dua atau tiga tahun terus-menerus, mengumpulkan semua bahan-bahan serta menyusun kembali seperti yang ada sekarang ini, atau seperti yang dilakukan Zaid sendiri membaca Qur'an itu di depan Muhammad, demikian orang mengatakan. Sesudah naskah pertama lengkap adanya, oleh Umar itu dipercayakan penyimpanannya kepada Hafsha, puterinya dan isteri Nabi. Kitab yang sudah dihimpun oleh Zaid ini tetap berlaku selama khilafat Umar, sebagai teks yang otentik dan sah.

"Tetapi kemudian terjadi perselisihan mengenai cara membaca, yang timbul baik karena perbedaan naskah Zaid yang tadi atau karena perubahan yang dimasukkan ke dalam naskah-naskah itu yang disalin dari naskah Zaid. Dunia Islam cemas sekali melihat hal ini. Wahyu yang didatangkan dari langit itu "satu," lalu dimanakah sekarang kesatuannya? Hudhaifa yang pernah berjuang di Armenia dan di Azerbaijan, juga melihat adanya perbedaan Qur'an orang Suria dengan orang Irak."

MUSHAF USMAN

"Karena banyaknya dan jauhnya perbedaan itu, ia merasa gelisah sekali. Ketika itu ia lalu meminta agar Usman turun tangan. "Supaya jangan ada lagi orang berselisih tentang kitab mereka sendiri seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani." Khalifahpun dapat menerima saran itu. Untuk menghindarkan bahaya, sekali lagi Zaid bin Thabit dimintai bantuannya dengan diperkuat oleh tiga orang dari Quraisy. Naskah pertama yang ada di tangan Hafsha lalu dibawa, dan cara membaca yang berbeda-beda dari seluruh persekemakmuran Islam itupun dikemukakan, lalu semuanya diperiksa kembali dengan pengamatan yang luarbiasa, untuk kali terakhir. Kalaupun Zaid berselisih juga dengan ketiga sahabatnya dari Quraisy itu, ia lebih condong pada suara mereka mengingat turunnya wahyu itu menurut logat Quraisy, meskipun dikatakan wahyu itu diturunkan dengan tujuh dialek Arab yang bermacam-macam."

"Selesai dihimpun, naskah-naskah menurut Qur'an ini lalu dikirimkan ke seluruh kota persekemakmuran. Yang selebihnya naskah-naskah itu dikumpulkan lagi atas perintah Khalifah lalu dibakar. Sedang naskah yang pertama dikembalikan kepada Hafsha."

PERSATUAN ISLAM ZAMAN USMAN

"Maka yang sampai kepada kita adalah Mushhaf Usman. Begitu cermat pemeliharaan atas Qur'an itu, sehingga hampir tidak kita dapati -bahkan memang tidak kita dapati- perbedaan apapun dari naskah-naskah yang tak terbilang banyaknya, yang tersebar ke seluruh penjuru dunia Islam yang luas itu. Sekalipun akibat terbunuhnya Usman sendiri - seperempat abad kemudian sesudah Muhammad wafat - telah menimbulkan adanya kelompok-kelompok yang marah dan memberontak sehingga dapat menggoncangkan kesatuan dunia Islam - dan memang demikian adanya - namun Qur'an yang satu, itu juga yang selalu tetap menjadi Qur'an bagi semuanya. Demikianlah, Islam yang hanya mengenal satu kitab itu ialah bukti yang nyata sekali, bahwa apa yang ada di depan kita sekarang ini tidak lain adalah teks yang telah dihimpun atas perintah Usman yang malang itu.

"Agaknya di seluruh dunia ini tak ada sebuah kitabpun selain Qur'an yang sampai empatbelas abad lamanya tetap lengkap dengan teks yang begitu murni dan cermatnya. Adanya cara membaca yang berbeda-beda itu sedikit sekali untuk sampai menimbulkan keheranan. Perbedaan ini kebanyakannya terbatas hanya pada cara mengucapkan huruf hidup saja atau pada tempat-tempat tanda berhenti, yang sebenarnya timbul hanya belakangan saja dalam sejarah, yang tak ada hubungannya dengan Mushhaf Usman."

"Sekarang, sesudah ternyata bahwa Qur'an yang kita baca ialah teks Mushhaf Usman yang tidak berubah-ubah, baiklah kita bahas lagi: Adakah teks ini yang memang persis bentuknya seperti yang dihimpun oleh Zaid sesudah adanya persetujuan menghilangkan segi perbedaan dalam cara membaca yang hanya sedikit sekali jumlahnya dan tidak pula penting itu? Segala pembuktian yang ada pada kita meyakinkan sekali, bahwa memang demikian. Tidak ada dalam berita-berita lama atau yang patut dipercaya yang melemparkan kesangsian terhadap Usman sedikitpun, bahwa dia bermaksud mengubah Qur'an guna memperkuat tujuannya. Memang benar, bahwa Syi'ah kemudian menuduh bahwa dia mengabaikan beberapa ayat yang mengagungkan Ali. Akan tetapi dugaan ini tak dapat diterima akal. Ketika Mushhaf ini diakui, antara pihak Umawi dengan pihak Alawi (golongan Mu'awiya dan golongan Ali) belum terjadi sesuatu perselisihan faham. Bahkan persatuan Islam masa itu benar-benar kuat tanpa ada bahaya yang mengancamnya. Di samping itu juga Ali belum melukiskan tuntutannya dalam bentuknya yang lengkap. Jadi tak adalah maksud-maksud tertentu yang akan membuat Usman sampai melakukan pelanggaran yang akan sangat dibenci oleh kaum Muslimin itu. Orang-orang yang memahami dan hafal benar Qur'an seperti yang mereka dengar sendiri waktu Nabi membacanya mereka masih hidup tatkala Usman mengumpulkan Mushhaf itu. Andaikata ayat-ayat yang mengagungkan Ali itu sudah ada, tentu terdapat juga teksnya di tangan pengikut-pengikutnya yang banyak itu. Dua alasan ini saja sudah cukup untuk menghapus setiap usaha guna menghilangkan ayat-ayat itu. Lagi pula, pengikut-pengikut Ali sudah berdiri sendiri sesudah Usman wafat, lalu mereka mengangkat Ali sebagai Pengganti."

"Dapatkah diterima akal - pada waktu kemudian mereka sudah memegang kekuasaan - bahwa mereka akan sudi menerima Qur 'an yang sudah terpotong-potong, dan terpotong yang disengaja pula untuk menghilangkan tujuan pemimpin mereka?! Sungguhpun begitu mereka tetap membaca Qur'an yang juga dibaca oleh lawan-lawan mereka. Tak ada bayangan sedikitpun bahwa mereka akan menentangnya. Bahkan Ali sendiripun telah memerintahkan supaya menyebarkan naskah itu sebanyak-banyaknya. Malah ada diberitakan, bahwa ada beberapa di antaranya yang ditulisnya dengan tangannya sendiri."

"Memang benar bahwa para pemberontak itu telah membuat pangkal pemberontakan mereka karena Usman telah mengumpulkan Qur'an lalu memerintahkan supaya semua naskah dimusnahkan selain Mushhaf Usman. Jadi tantangan mereka ditujukan kepada langkah-langkah Usman dalam hal itu saja, yang menurut anggapan mereka tidak boleh dilakukan. Tetapi di balik itu tidak seorangpun yang menunjukkan adanya usaha mau mengubah atau menukar isi Qur'an. Tuduhan demikian pada waktu itu adalah suatu usaha perusakan terang-terangan. Hanya kemudian golongan Syi'ah saja yang mengatakan itu untuk kepentingan mereka sendiri."

"Sekarang kita dapat mengambil kesimpulan dengan meyakinkan, bahwa Mushhaf Usman itu tetap dalam bentuknya yang persis seperti yang dihimpun oleh Zaid bin Thabit, dengan lebih disesuaikan bahan-bahannya yang sudah ada lebih dulu dengan dialek Quraisy. Kemudian menyisihkan jauh-jauh bacaan-bacaan selebihnya yang pada waktu itu terpencar-pencar di seluruh daerah itu."

MUSHAF USMAN CERMAT DAN LENGKAP

"Tetapi sungguhpun begitu masih ada suatu soal penting lain yang terpampang di depan kita, yakni: adakah yang dikumpulkan oleh Zaid itu merupakan bentuk yang sebenarnya dan lengkap seperti yang diwahyukan kepada Muhammad? Pertimbangan-pertimbangan di bawah ini cukup memberikan keyakinan, bahwa itu adalah susunan sebenarnya yang telah selengkapnya dicapai waktu itu:"

"Pertama - Pengumpulan pertama selesai di bawah pengawasan Abu Bakr. Sedang Abu Bakr seorang sahabat yang jujur dan setia kepada Muhammad. Juga dia adalah orang yang sepenuhnya beriman pada kesucian sumber Qur'an, orang yang hubungannya begitu erat sekali dengan Nabi selama waktu duapuluh tahun terakhir dalam hayatnya, serta kelakuannya dalam khilafat dengan cara yang begitu sederhana, bijaksana dan bersih dari gejala ambisi, sehingga baginya memang tak adalah tempat buat mencari kepentingan lain. Ia beriman sekali bahwa apa yang diwahyukan kepada kawannya itu adalah wahyu dari Allah, sehingga tujuan utamanya ialah memelihara pengumpulan wahyu itu semua dalam keadaan murni sepenuhnya."

Pernyataan semacam ini berlaku juga terhadap Umar yang sudah menyelesaikan pengumpulan itu pada masa khilafatnya. Pernyataan semacam ini juga yang berlaku terhadap semua kaum Muslimin waktu itu, tak ada perbedaan antara para penulis yang membantu melakukan pengumpulan itu, dengan seorang mu'min biasa yang miskin, yang memiliki wahyu tertulis di atas tulang-tulang atau daun-daunan, lalu membawanya semua kepada Zaid. Semangat mereka semua sama, ingin memperlihatkan kalimat-kalimat dan kata-kata seperti yang dibacakan oleh Nabi, bahwa itu adalah risalah dari Tuhan. Keinginan mereka hendak memelihara kemurnian itu sudah menjadi perasaan semua orang, sebab tak ada sesuatu yang lebih dalam tertanam dalam jiwa mereka seperti rasa kudus yang agung itu, yang sudah mereka percayai sepenuhnya sebagai firman Allah. Dalam Qur'an terdapat peringatan-peringatan bagi barangsiapa yang mengadakan kebohongan atas Allah atau menyembunyikan sesuatu dari wahyuNya. Kita tidak akan dapat menerima, bahwa pada kaum Muslimin yang mula-mula dengan semangat mereka terhadap agama yang begitu rupa mereka sucikan itu, akan terlintas pikiran yang akan membawa akibat begitu jauh membelakangi iman."

"Kedua - Pengumpulan tersebut selesai selama dua atau tiga tahun sesudah Muhammad wafat. Kita sudah melihat beberapa orang pengikutnya, yang sudah hafal wahyu itu di luar kepala, dan setiap Muslim sudah hafal sebagian, juga sudah ada serombongan ahli-ahli Qur'an yang ditunjuk oleh pemerintah dan dikirim ke segenap penjuru daerah Islam guna melaksanakan upacara-upacara dan mengajar orang memperdalam agama. Dari mereka semua itu terjalinlah suatu mata rantai penghubung antara wahyu yang dibaca Muhammad pada waktu itu dengan yang dikumpulkan oleh Zaid. Kaum Muslimin bukan saja bermaksud jujur dalam mengumpulkan Qur'an dalam satu Mushhaf itu, tapi juga mempunyai segala fasilitas yang dapat menjamin terlaksananya maksud tersebut, menjamin terlaksananya segala yang sudah terkumpul dalam kitab itu, yang ada di tangan mereka sesudah dengan teliti dan sempurna dikumpulkan."

"Ketiga - Juga kita mempunyai jaminan yang lebih dapat dipercaya tentang ketelitian dan kelengkapannya itu, yakni bagian-bagian Qur'an yang tertulis, yang sudah ada sejak masa Muhammad masih hidup, dan yang sudah tentu jumlah naskahnyapun sudah banyak sebelum pengumpulan Qur'an itu. Naskah-naskah demikian ini kebanyakan sudah ada di tangan mereka semua yang dapat membaca. Kita mengetahui, bahwa apa yang dikumpulkan Zaid itu sudah beredar di tangan orang dan langsung dibaca sesudah pengumpulannya. Maka logis sekali kita mengambil kesimpulan, bahwa semua yang terkandung dalam bagian-bagian itu, sudah tercakup belaka. Oleh karena itu keputusan mereka semua sudah tepat pada tempatnya. Tidak ada suatu sumber yang sampai kepada kita yang menyebutkan, bahwa para penghimpun itu telah melalaikan sesuatu bagian, atau sesuatu ayat, atau kata-kata, ataupun apa yang terdapat di dalamnya itu, berbeda dengan yang ada dalam Mushhaf yang sudah dikumpulkan itu. Kalau yang demikian ini memang ada, maka tidak bisa tidak tentu terlihat juga, dan tentu dicatat pula dalam dokumen-dokumen lama yang sangat cermat itu; tak ada sesuatu yang diabaikan sekalipun yang kurang penting."

"Keempat - Isi dan susunan Qur'an itu jelas sekali menunjukkan cermatnya pengumpulan. Bagian-bagian yang bermacam-macarn disusun satu sama lain secara sederhana tanpa dipaksa-paksa atau dibuat-buat."

"Tak ada bekas tangan yang mencoba mau mengubah atau mau memperlihatkan keahliannya sendiri. Itu menunjukkan adanya iman dan kejujuran sipenghimpun dalam menjalankan tugasnya itu. Ia tidak berani lebih daripada mengambil ayat-ayat suci itu seperti apa adanya, lalu meletakkannya yang satu di samping yang lain."

"Jadi kesimpulan yang dapat kita sebutkan dengan meyakinkan sekali ialah, bahwa Mushhaf Zaid dan Usman itu bukan hanya hasil ketelitian saja, bahkan - seperti beberapa kejadian menunjukkan - adalah juga lengkap, dan bahwa penghimpunnya tidak bermaksud mengabaikan apapun dari wahyu itu. Juga kita dapat meyakinkan, berdasarkan bukti-bukti yang kuat, bahwa setiap ayat dari Qur'an itu, memang sangat teliti sekali dicocokkan seperti yang dibaca oleh Muhammad."

Panjang juga kita mengutip kalimat-kalimat Sir William Muir seperti yang disebutkan dalam kata pengantar The Life of Mohammad (p.xiv-xxix) itu. Dengan apa yang sudah kita kutip itu tidak perlu lagi rasanya kita menyebutkan tulisan Lammens atau Von Hammer dan Orientalis lain yang sama sependapat. Secara positif mereka memastikan tentang persisnya Qur'an yang kita baca sekarang, serta menegaskan bahwa semua yang dibaca oleh Muhammad adalah wahyu yang benar dan sempurna diterima dari Tuhan. Kalaupun ada sebagian kecil kaum Orientalis berpendapat lain dan beranggapan bahwa Qur'an sudah mengalami perubahan, dengan tidak menghiraukan alasan-alasan logis yang dikemukakan Muir dan sebagian besar Orientalis, yang telah mengutip dari sejarah Islam dan dari sarjana-sarjana Islam, maka itu adalah suatu dakwaan yang hanya didorong oleh rasa dengki saja terhadap Islam dan terhadap Nabi.

Betapapun pandainya tukang-tukang tuduh itu menyusun tuduhannya, namun mereka tidak dapat meniadakan hasil penyelidikan ilmiah yang murni. Dengan caranya itu mereka takkan dapat menipu kaum Muslimin, kecuali beberapa pemuda yang masih beranggapan bahwa penyelidikan yang bebas itu mengharuskan mereka mengingkari masa lampau mereka sendiri, memalingkan muka dari kebenaran karena sudah terbujuk oleh kepalsuan yang indah-indah. Mereka percaya kepada semua yang mengecam masa lampau sekalipun pengecamnya itu tidak mempunyai dasar kebenaran ilmiah dan sejarah.


sumber:eramuslim.net

Aisyah Shidiq

Seorang gadis kecil periang berumur sembilan tahun sedang gembira bermain-main dengan teman-temannya. Rambutnya awut-awutan dan mukanya kotor karena debu. Tiba-tiba beberapa orang yang sudah agak tua muncul dari sebuah rumah di dekat situ dan datang ke tempat anak-anak tadi bermain-main.Mereka lalu membawa anak gadis itu pulang, memberinya pakaian yang rapi, dan malam itu juga, gadis itu dinikahkan dengan laki-iaki paling agung di antara manusia, Nabi agama Islam. Suatu penghormatan paling unik yang pernah diterima seorang wanita. Aisyah adalah salah seorang putri tersayang Sayidina Abu Bakar, sahabat Nabi yang setia, yang kemudian menggantikan Nabi sebagai Khalifah Islam yang pertama. Gadis itu lahir di Mekkah 614 Masehi, delapan tahun sebelum permula an zaman Hijrah. Orang tuanya sudah memeluk agama Islam. Sejak mulai kecil anak gadis itu telah dididik sesuai dengan tradisi paling mulia --agama baru itu-- dan dengan sempurna dipersiapkan dan diberinya hak penuh untuk kemudian menduduki tempat yang mulia.Ia menjadi istri Nabi selama sepuluh tahun. Masih muda sewaktu dinikahkan dengan Nabi, tetapi ia memiliki kemampuan sangat baik sehingga dapat menyesuaikan diri dengan tugas barunya. Kehadirannya membuktikan bahwa ia seorang yang cerdas dan setia, dan sebagai istri, sangat mencintai tokoh dermawan paling besar bagi umat manusia. Di seluruh dunia, ia diakui sebagai pembawa riwayat paling otentik bagi ajaran Islam seperti apa yang telah disunahkan oleh suaminya. Ia di anugerahi ingatan yang sangat tajam, dan mampu mengingat segala pertanyaan yang diajukan para tamu wanita kepada Nabi, serta juga mengingat segenap jawaban yang diberikan oleh Nabi. Diingatnya secara sempurna semua kuliah yang diberikan Nabi kepada para delegasi dan jemaah di masjid. Karena kamar Aisyah itu bersebelahan dengan masjid, dengan cermat dan tekun ia mendengarkan dakwah, kuliah, dan diskusi Nabi dengan para sahabat dan orang-orang lain. Ia mengajukan juga pertanyaan-pertanyaan kepada Nabi tentang soal-soal yang sulit dan rumit sehubungan dengan ajaran agama baru itu. Hal-hal inilah yang menyebabkan ia menjadi ilmuwan dan periwayat yang paling besar dan paling otentik bagi sunnah Nabi dan ajaran Islam.Aisyah tidak ditakdirkan hidup bersama-sama dengan Nabi untuk waktu yang lama. Pernikahannya itu berlangsung hanya sepuluh tahun saja. Tahun 11 Hijrah, 632 Masehi, Nabi wafat dan dimakamkan di kamar yang dihuni Aisyah. Nabi digantikan oleh seorang sahabat yang setia, Abu Bakar, sebagai khalifah islam yang pertama. Aisyah terus menduduki urutan kesatu, dan setelah Fatima meninggal dunia di tahun 11 Hijrah, Aisyah dianggap sebagai wanita yang paling penting di dunia Islam. Tetapi ayahnya, Abu Bakar, tidak berumur panjang. Ia meninggal dunia dua setengah tahun setelah wafat Nabi.Selama kekuasaan Umar al-Faruq, kalifah yang kedua, Aisyah menduduki posisi sebagai ibu utama di seluruh daerah-daerah Islam yang secara cepat makin meluas. Orang datang untuk meminta nasihat-nasihatnya yang bijaksana tentang segala hal yang penting.Umar terbunuh dan kemudian Khalifah Usman. Dua peristiwa kesyahidan tersebut telah mengguncangkan sendi-sendi negara baru itu, dan menjurus kepada perpecahan yang tragis di kalangan umat Islam. Keadaan itu sangat merugikan agama yang sedang menyebar luas dan berkembang dengan cepat, yang pada waktu itu telah menjalar sampai ke batas pegunungan Atlas di sebelah Barat, dan ke puncak-puncak Hindu Kush di sebelah Timur.Aisyah tidak dapat tinggal diam sebagai penonton dalam menghadapi oknum-oknum pemecah-belah itu. Dengan sepenuh hati ia membela mereka yang menuntut balas atas kesyahidan khalifah yang ketiga. Di dalam Perang Unta, suatu pertempuran melawan Ali, khalifah yang keempat, pasukan Aisyah kalah dan ia terus mundur ke Medina di bawah perlindungan pengawal yang diberikan oleh putra khalifah sendiri.Beberapa orang sejarawan yang menaruh minat terhadap peristiwa itu, baik yang Muslim maupun yang bukan, memberikan kritik kepada Aisyah dalam pertempuran melawan Ali. Tetapi tidak seorang pun yang meragukan kesungguhan hati dan keyakinan Aisyah untuk menuntut balas bagi darah Usman.Aisyah menyaksikan berbagai perubahan yang dialami oleh Islam selama tiga puluh tahun kekuasaan khalifah yang saleh. Ia meninggal dunia tahun 678 Masehi. Ketika itu kekuasaan berada di tangan Muawiya. Penguasa ini amat takut kepada Aisyah dengan kritik-kritiknya yang pedas berkenaan dengan negara Islam yang secara politis sedang berubah itu.Ibu Utama agama Islam ini terkenal dengan bermacam ragam sifatnya kesalehannya, umurnya, kebijaksanaannya, kesederhanaannya, kemurahan hatinya, dan kesungguhan hatinya untuk menjaga kemurnian riwayat sunnah Nabi.Kesederhanaan dan kesopanannya segera menjadi obor penyuluh bagi wanita Islam sejak waktu itu juga. Ia menghuni ruangan yang berukuran kurang dari 12 X 12 kaki bersama-sama dengan Nabi. Ruangan itu beratap rendah, terbuat dari batang dan daun kurma, diplester dengan lumpur. Pintunya cuma satu, itu pun tanpa daun pintu, dan hanya ditutup dengan secarik kain yang digantungkan di atasnya. Selama masa hidup Nabi, jarang Aisyah tidak kekurangan makan. Pada malam hari ketika Nabi mengembuskan napasnya yang terakhir, Aisyah tidak nempunyai minyak. Waktu Khalifah Umar berkuasa, istri dan beberapa sahabat Nabi mendapatkan tunjangan yang cukup besar tiap bulannya. Aisyah jarang menahan uang atau pemberian yang diterimanya sampai keesokan harinya, karena semuanya itu segera dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Pada suatu hari di bulan Ramadhan, waktu Abdullah ibn Zubair menyerahkan sekantung uang sejumlah satu laksa dirham, Aisyah membagikan uang itu sebelum waktu berbuka puasa.Aisyah pada zamannya terkenal sebagai orator. Pengabdiannya kepada masyarakat, dan usahanya untuk mengembangkan pengetahuan orang tentang sunnah dan fiqh, tidak ada tandingannya di dalam catatan sejarah Islam. Jika orang menemukan persoalan mengenai sunnah dan fiqh yang sukar untuk dipecahkan, soal itu akhirnya dibawa kepada Aisyah, dan kata-kata Aisyah menjadi keputusan terakhir. Kecuali Ali, Abdullah ibn Abbas dengan Abdullah ibn Umar, Aisyah juga termasuk kelompok intelektual di tahun-tahun pertama Islam.Ibu Agung Agama Islam ini mengembuskan napas yang terakhir 17 Ramadhan, 58 Hijriah (13 Juli, 678 Masehi). Kematiannya menimbulkan rasa duka terutama di Medina dan di seluruh dunia Islam.Aisyah bersama Khadijah dan Fatima az-Zahra dianggap sebagai wanita yang paling menonjol di kalangan wanita Islam. Kebanyakan para ulama menempatkan Fatima di tangga teratas, diikuti oleh Khadijah, dengan Aisyah sebagai yang terakhir. Tapi ulama ibn Hazim malah menempatkan Aisyah nomor dua sesudah Nabi Muhammad, di atas semua istri, sahabat, dan rekan-rekannya. Menurut Allama ibn Taimiya, Fatima-lah yang berada di tempat teratas, karena ia itu anak tersayang Nabi, Khadijah itu agung karena dialah orang pertama yang memeluk agama Islam. Tetapi, tidak seorang pun yang menandingi Aisyah mengenai peranannya dalam menyebarluaskan ajaran Nabi.

RUMAH-RUMAH DI SURGA

RUMAH-RUMAH DI SURGA
(Tingkatannya bagi yang berakhlaq baik, yang meninggalkan debat dan yang meninggalkan dusta)

______________

Dari Abu Umamah al-Bahily radhiallaahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: "aku adalah penjamin/penanggung jawab rumah di surga yang paling rendah terhadap orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada dalam kebenaran, (juga penjamin/penanggung jawab) rumah di surga yang (berada) ditengah-tengah terhadap orang yang meninggalkan dusta meskipun sekedar bercanda, (juga penjamin/penanggung jawab) rumah di surga yang paling tinggi terhadap orang yang baikakhlaknya". [Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan]. Sekilas tentang Periwayat Hadits Dia adalah sahabat yang agung, Abu Umamah al-Bahily, Shuday bin 'Ajlan al-Bahily, seorang sahabat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam . Beliau meriwayatkan ilmu yang banyak. Wafat pada tahun 81 H atau 86 H, semoga Allah meridhainya. Faedah-Faedah Hadits Dan Hukum-Hukum Terkait

* Seorang Da'i yang sukses dan pendidik yang Naashih (suka memberi nasehat) adalah orang yang memaparkan faedah-faedah, adab dan akhlak dengan cara yang simpatik dan menarik sehingga audiens menyambutnya dengan bersemangat dan penuh kerinduan, lalu menerimanya secara penuh. Demikian pula-lah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dalam hadits diatas dimana beliau menyebutkan beberapa jaminan bagi orang-orang yang memiliki spesifikasi tersebut.

* Surga merupakan sesuatu yang paling dicari-cari oleh para pencarinya dan yang paling mahal untuk dipersaingkan oleh orang-orang yang bersaing memperebutkannya; maka beruntunglah orang yang berupaya untuk meraihnya lalu memenangkannya dan berbahagialah orang yang berusaha demi untuk mendapatkannya. Harganya memang mahal namun mudah dan murah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Dalam hal ini, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam memberikan jaminan bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan mulia tersebut.

* Dalam pada itu, surga juga memiliki banyak tingkatan yang dipersiapkan oleh Allah untuk para hamba-Nya yang beriman. Dalam hadits diatas, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam menjelaskan balasan bagi orang yang memiliki salah satu dari tiga sifat berikut:

1. Tidak suka berdebat dalam hal yang tidak ada faedahnya; orang yang memiliki sifat ini akan mendapatkan surga tingkatan paling rendah. Bentuk dari perdebatan tersebut berupa perdebatan yang diiringi dengan suara yang meninggi dan ber-takalluf (menghabiskan energi dan bersusah-susah) dalam berargumentasi. Dalam hal ini, sebenarnya dia justru ingin mempertajam rasa permusuhan dan kebencian, bukan untuk mencapai kebenaran yang semestinya dicari. Seorang Mukmin yang haq adalah orang yang meninggalkan hal itu meskipun sangat yakin bahwa dia berada dalam kebenaran.

2. Tidak suka berdusta meskipun sekedar bercanda; orang yang memiliki sifat ini akan mendapatkan surga tingkat menengah. Dia mendapatkan ini karena telah menjauhkan dirinya dari dusta baik dalam perkataan maupun perbuatan, konsisten dengan sifat jujur, tidak berbicara selain yang benar serta tidak memberikan informasi selain berita yang benar.

Dusta adalah salah satu dari sifat orang-orang Munafiq sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: "Tanda orang Munafiq ada tiga: (Pertama), bila berbicara dia berdusta, (Kedua) bila berjanji dia mengingkarinya, dan (ketiga), bila dia diberi amanah dia berkhianat".

Perbuatan dusta adalah termasuk dosa besar, implikasinya sangat mengerikan serta amat membahayakan. Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: "Berhati-hatilah terhadap dusta, karena sesungguhnya perbuatan dusta itu akan menuntun (menggiring) kepada perbuatan buruk (fujur), dan sesungguhnya perbuatan buruk (fujur) itu akan menuntun (menggiring) kepada neraka. Tidaklah seseorang, senantiasa berdusta dan amat mencari-cari (membiasakan) dusta hingga dia dicatat di sisi Allah sebagai seorang Pendusta".

Ini adalah ancaman yang serius dan amat pedih yang setimpal dengan perbuatan dusta tersebut meskipun hanya sekedar membikin orang tertawa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam : "celakalah bagi orang yang berbicara dengan suatu pembicaraan agar orang lain tertawa tetapi berdusta, celakalah dia! Celakalah dia!". [H.R.at-Turmuzi].

Mengenai hadits ini, Pengarang kitab Tuhfah al-Ahwazy Syarh Sunan at-Turmuzi memberikan komentar: "yang dapat difahami dari hadits ini, bahwa bila dia berbicara benar (dalam candanya tersebut-red) maka hal itu tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan oleh Umar terhadap Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam ketika beliau sedang marah kepada sebagian Ummahatul Mukminin...".

Tingkatan dusta yang paling besar dosanya adalah berdusta terhadap Allah atau Rasul-Nya Shallallâhu 'alaihi wasallam . Demikian juga dusta yang berkaitan dengan harta benda.

3. Berakhlak baik; orang yang memiliki sifat ini akan mendapatkan surga yang paling tinggi. Yang mendapatkannya adalah siapa saja yang memiliki sifat-sifat yang terpuji, akhlak yang baik serta yang cara pergaulannya menyenangkan. Dalam hal ini, dia meneladani Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam yang telah dipuji oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya: "dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung". (Q.S. al-Qalam/68: 4).

Akhlak yang baik merupakan perbuatan yang paling banyak memberikan sumbangsih terhadap melejitnya predikat seorang Muslim di tengah-tengah masyarakat dalam kehidupan di dunia dan juga di sisi Allah dalam kehidupan di akhirat kelak sebagaimana dalam hadits Abu ad-Darda' radhiallaahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada sesuatupun yang lebih berat timbangannya bagi seorang Muslim pada hari Kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amat membenci orang yang berbuat keji dan kotor".

* Hubungan Sosial; ikatan yang terjadi antara sesama manusia hendaklah diliputi oleh suasana kemesraan, saling mencintai, persaudaraan dan kasih sayang. Dari sisi yang lain, hendaknya terbebas dari perasaan dengki, dendam dan suka mengicuh. Hal inilah yang dikehendaki dan diupayakan oleh Islam. Untuk itu, hati seorang Muslim mesti bersih dan suci serta terbebas dari penyakit-penyakit dan kuman-kumannya yang kelak akan mengeruhkan kejernihan hubungan tersebut.

Di dalam syari'at Islam terdapat kaidah: "Mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan lebih diutamakan daripada upaya mencari kemaslahatan-kemaslahatan ". Oleh karena itu, setiap pembicaraan, perdebatan atau perbuatan yang dapat menimbulkan suatu kerusakan, maka wajib bagi seorang hamba untuk meninggalkannya dan menjauhinya.

Madinah, 18 jan 2003


Entah mengapa rasanya mulut ini mudah sekali berkomentar. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, rasa-rasanya amat menggelitik, sehingga dengan disadari atau tidak, terlontar kata kata yang begitu mungil dan ringan diucapkan tapi begitu besar dan berat dampak dunia akheratnya.

Bahkan celetukan spontan selain bisa memperlihatkan kualitas kepribadian kita juga bisa menentukan nasib baik kita atau sebaliknya.

Kalau tak berhati-hati, komentar kita bisa melukai hati orang lain, karena yang bersangkutan bisa merasa dihina atau dipermalukan atau merasa diejek, (walau kita tak bermaksud buruk) namun begitulah, celoteh iseng kadang bagai pisau yang mengiris, menyakiti dan membuat luka, tentu seperti yang kita tahu sakit hati akan menimbulkan benih kebencian, benci menggiring kepada dengki dan permusuhan, memiliki musuh berarti mempersempit kehidupan kita serta memersiapkan ranjau yang akan mencelakakan diri.

Komentar juga bisa menandakan kufur nikmat, yang bisa menghapus nikmat yang ada dan menutup pintu pemberian Alloh lainnya yaitu ketika lontaran kata spontan hanya berupa keluh kesah, kekecewaan, cemoohan terhadap keadaan, atau menggerutu penuh kekesalan, padahal semua nikmat dari Alloh tak ada yang mengecewakan, jikalau disyukuri niscaya akan sangat terasa kenikmatannya dan tentu akan mengundang perbagai karunia lainya sesuai dengan janji-Nya.

Komentar juga akan memperlihatkan kebodohan kita, yaitu ketika kita gemar mengomentari segala hal agar kita nampak serba tahu dan dianggap pintar, padahal jelas sekali orang yang pandai akan sangat berhati-hatidalam ucapannya, lebih banyak diamnya dan tak sungkan untuk mengakuiketidak tahuannya, serta tak malu dianggap bodoh, sebetulnya hanyaorang yang bodoh sungguhan yang sok pintar dan sok tahu.

Dan berkomentar spontan yang mengerikan adalah ketika, ucapannya penuh dengan riya, takabur, ujub, penyakit hati yang membinasakan, komentar yang sering menceritakan amalnya sendiri dengan tujuan dipuji, pamer jasa dan kebaikan, berarti efektif akan menghanguskan pahala yang dikumpulkannya.

Komentar yang selalu merendahkan orang lain, plus mencemooh orang yang menasehati serta menolak orang yang mengkritik akan termasuk ke dalam komentar ciri orang yang sombong alias takabbur, seperti fir'aun, abu jahal, abu lahab, yaitu kelompok orang yang terhina dan terkutuk justru karena kesombongannya. Juga ujub yaitu komentar takjub kepada diri sendiri yang membuat diri ingin tampak paling super dalam segala hal, akan menunjukan dengan meyakinkan bahwa memang dirinya paling kurang dalam hal apapun,

Oleh karena itu, menahan diri untuk tidak mudah berkomentar adalah pintu keselamatan. Komentar dari hasil perenungan yang dalam, pengamatan yang seksama, berpikir yang jernih, kehati-hatian serta ketulusan niat yang mengiringi kesungguhan untuk membawa manfaat dari setiap kata yang terucap, ditambah rasa takut kepada Alloh yang Maha Mendengar dan yang akan menuntut pertanggungjawaban dari setiap kalimat, akan menjadikan komentar kita menjadi mutiara yang indah dan berharga, tidak hanya bagi yang berucap namun juga bagi yang menyimak, tak pula hanya untuk dunia namun bisa pula menjadi bekal pulang diakherat kelak. Insya-Allah.



Posted by: Haris Satriawan


sumber:milis eramuslim.net

Monday, February 07, 2005

Delapan February

Hari ini hari yang banyak dinanti oleh rekan rekan kerja.karna udah tau dari awal makanya ga ada pertumpahan air mata yang berlebihan malah yang ada action protet memotret yah maklumlah kenangan terakhir selama hampir lima taun mengunjungi semin.

dan inilah hari yang dinanti oleh warga pick-up.
plong.....jelas itu,tapi bayang banyak jadi pengangguran selalu melintas
apalagi yang jadi anak rantau.


kebahagian hari ini biarlah menjadi milik mereka yang udah sewajarnya mereka rasa
walau masih ada intrik sedikit tapi....ta apalah tu smua demi kebaikan mereka juga
dan bersyukurlah karna telah menyelesaikan satu kesempatan pertama.

trus aku kapan nich.........
sabar yah Nur....kamu tunggu hari esok.

Seni Menata Hati dalam Bergaul

oleh:Abdullah Gymnastiar

Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang penuh keikhlasan, yang insya Allah akan terasa sangat indah dan menyenangkan. Pergaulan yang penuh rekayasa dan tipu daya demi kepentingan yang bernilai rendah tidak akan pernah langgeng dan cenderung menjadi masalah.

1. Aku Bukan Ancaman Bagimu
Kita tidak boleh menjadi seorang yang merugikan orang lain, terlebih kalau kita simak Rasulullah Saw. bersabda, "Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tagannya." (HR. Bukhari)

Hindari penghinaan.
Apapun yang bersifat merendahkan, ejekan, penghinaan dalam bentuk apapun terhadap seseorang, baik tentang kepribadian, bentuk tubuh, dan sebagainya, jangan pernah dilakukan, karena tak ada masalah yang selesai dengan penghinaan, mencela, merendahkan, yang ada adalah perasaan sakit hati serta rasa dendam.

Hindari ikut campur urusan pribadi.
Hindari pula ikut campur urusan pribadi seseorang yang tidak ada manfaatnya jika kita terlibat. Seperti yang kita maklumi setiap orang punya urusan pribadi yang sangat sensitif, yang bila terusik niscaya akan menimbulkan keberangan.
Hindari memotong pembicaraan.
Sungguh dongkol bila kita sedang berbicara kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal, berbeda halnya bila uraian tuntas dan kemudian dikoreksi dengan cara yag arif, niscaya kita pun berkecenderungan menghargainya bahkan mungkin menerimanya. Maka latihlah diri kita untuk bersabar dalam mendengar dan mengoreksi dengan cara yang terbak pada waktu yang tepat.
Hindari membandingkan.
Jangan pernah dengan sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penamplan, harta, kedudukan seseorang sehingga yang mendengarnya merasa dirinya tidak berharga, rendah atau merasa terhina.

Jangan membela musuhnya, mencaci kawannya.
Membela musuh maka dianggap bergabung dengan musuhnya, begitu pula mencaci kawannya berarti memusuhi dirinya. Bersikaplah yang netral, sepanjang diri kita menginginkan kebaikan bagi semua pihak, dan sadar bahwa untuk berubah harus siap menjalani proses dan tahapan.

Hindari merusak kebahagiannya.
Bila seseorang sedang berbahagia, janganlah melakukan tindakan yang akan merusak kebahagiaanya. Misalkan ada seseorang yang merasa beruntung mendapatkan hadiah dari luar negeri, padahal kita tauh persis bahwa barang tersebut buatan dalam negeri, maka kita tak perlu menyampaikannya, biarlah dia berbahagia mendapatkan oleh-oleh tersebut.

Jangan mengungkit masa lalu.
Apalagi jika yang diungkit adalah kesalahan, aib atau kekurangan yang sedang berusaha ditutupi.

Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kesalahan yang sangat ingin disembunyikannya, termasuk diri kita, maka jangan pernah usil untuk mengungkit dan membeberkannya, hal seperti ini sama dengan mengajak bermusuhan.

Jangan mengambil haknya.
Jangan pernah terpikir untuk menikmati hak orang lain, setiap gangguan terhadap hak seseorang akan menimbulkan asa tidak suka dan perlawanan yang tentu akan merusak hubungan.. Sepatutnya kita harus belajar menikmati hak kita, agar bermanfaat dan menjadi bahan kebahagiaan orang lain.
Hati-hati engan kemarahan.
Bila anda marah, maka waspadalah karenan kemarahan yang tak terkendali biasanya menghasilkankata dan perilaku yang keji, yang sangat melukai, dan tentu perbuatan ini akan menghancurkan hubungan baik di lingkungan manapun. Kita harus mulai berlatih mengendalikan kemarahan sekuat tenaga dan tak usah sungkan untuk meminta maaf andai kata ucaan dirasakan berlebihan.

Jangan menertawakannya.
Sebagian besar dari sikap menertawakan seseorang adalah karena kekurangannnya, baik sikap, penampilan, bentuk rupa, ucapan dan lain sebagainya, dan ingatlah bahwa tertawa yang tidak pada tempatnya serta berlebihan akan mengundang rasa sakit hati.

Hati-hati dengan penampilan, bau badan dan bau mulut.
Tidak ada salahnya kita selalu mengontrol penampilan, bau badan atau mulut kita, karena penampilan atau bau badan yang tidak segar akan membuat orang lain merasa terusik kenyamanannya, dan cenderung ingin menghindari kita.

2. Aku menyenangkan bagimu

Wajah yang selalu cerah ceria.
Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah besabda, "Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta". (Sunan Abu Dawud).

Senyum tulus.
Rasulullah senantiasa tersenyum manis sekali dan ini sangat menyenangkan bagi siapapun yang menatapnya. Senyum adalah sedekah, senyuman yang tulus memiliki daya sentuh yang dalam ke dalam lubuk hati siapapun, senyum adalah nikmat Allah yang besar bagi manusia yang mencintai kebaikan. Senyum tidak dimiliki oleh orang-orang yang keji, sombong, angkuh, dan orang yang busuk hati.

Kata-kata yang santun dan lembut.
Pilihlah kata-kata yang paling sopan dengan dan sampaikan dengan cara yang lembut, karena sikap seperti itulah yang dilakukan Rasulullah, ketika berbincang dengan para sahabatnya, sehingga terbangun suasana yang menyenangkan. Hindari kata yang kasar, menyakitkan, merendahkan, mempermalukan, serta hindari pula nada suara yang keras dan berlebihan.

Senang menyapa dan mengucapkan salam.
Upayakanlah kita selalu menjadi orang yang paling dahulu dalam menyapa dan mengucapkan salam. Jabatlah tagan kawan kita penuh dengan kehangatan dan lepaslah tangan sesudah diepaskan oleh orang lain, karena demikianlah yang dicontohkan Rasulullah.

Jangan lupa untuk menjawab salam dengan sempurna dan penuh perhatian.

Bersikap sangat sopan dan penuh penghormatan.
Rosulullah jikalau berbincang dengan para sahabatnya selalu berusaha menghormati dengan cara duduk yang penuh perhatian, ikut tersenyum jika sahabatnya melucu, dan ikut merasa takjub ketika sahabatnya mengisahkan hal yang mempesona, sehingga setiap orang merasa dirinya sangat diutamakan oleh Rasulullah.

Senangkan perasaannya.
Pujilah dengan tulus dan tepat terhadap sesuatu yang layak dipuji sambil kita kaitkan dengan kebesaran Allah sehingga yang dipuji pun teringat akan asal muasal nikmat yang diraihnya, nyatakan terima kasih dan do’akan. Hal ini akan membuatnya merasa bahagia. Dan ingat jangan pernah kikir untuk berterima kasih.

Penampilan yang menyenangkan.
Gunakanlah pakaian yang rapi, serasi dan harum. Menggunakan pakaian yang baik bukanlah tanda kesombongan, Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, tentu saja dalam batas yang sesuai syariat yang disukai Allah.

Maafkan kesalahannya.
Jadilah pemaaf yang lapang dan tulus terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain kepada kita, karena hal ini akan membuat bahagia dan senang siapapun yang pernah melakukan kekhilafan terhadap kita, dan tentu hal ini pun akan mengangkat citra kita dihatinya.

3. Aku Bermanfaat Bagimu

Keberuntungan kita bukanlah diukur dari apa yang kita dapatkan tapi dari nilai manfaat yang ada dari kehadiran kita, bukankah sebaik-baik di antara manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi hamba-hamba Allah lainnya.

Rajin bersilaturahmi.
Silaturahmi secara berkala, penuh perhatian, kasih sayang dan ketulusan walaupun hanya beberapa saat, benar-benar akan memiliki kesan yang mendalam, apalagi jikalau membawa hadiah, insya Allah akan menumbuhkan kasih sayang.

Saling berkirim hadiah.
Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa saling memberi dan berkirim hadiah akan menumbuhkan kasih sayang. Jangan pernah takut miskin dengan memberikan sesuatu, karena Allah yang Maha Kaya telah menjanjikan ganjaran dan jaminan tak akan miskin bagi ahli sedekah yang tulus.

Tolong dengan apapun.
Bersegeralah menolong dengan segala kemampuan, harta, tenaga, wakt atau setidaknya perhatian yang tulus, walau perhatian untuk mendengar keluh kesahnya.

Apabila tidak mampu, maka do’akanlah, dan percayalah bahwa kebaikan sekecil apapun akan diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh Allah.

Sumbangan ilmu dan pengalaman.
Jangan pernah sungkan untuk mengajarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki, kita harus berupaya agar ilmu dan pengalaman yang ada pada diri kita bisa menjadi jalan bagi kesuksesan orang lain.

Insya Allah jikalau hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas maka, kebahagiaan dalam bergaul dengan siapapun akan tersa nikmat, karena tidak mengharapkan sesuatu dari orang melainkan kenikmatan kita adalah melakukan sesuatu untuk orang lain. Semata karena Allah


============
sumber:eramuslim.net

Negeri yang Dijanjikan

Oleh : M Fuad Nasar


Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW berkata kepada 'Adiy bin Hatim at Thaiy, ''Wahai Adiy, jika umurmu panjang, kamu akan menyaksikan kaum wanita berangkat seorang diri berkendaraan dari Hirah (Iran) menuju Ka'bah (Makkah) dengan aman, tidak suatu yang ditakutinya, kecuali Allah semata. Dan sesungguhnya kalau umurmu panjang, kamu akan ikut membuka perbendaharaan harta kekayaan Maharaja Persia (dengan membawa keadilan). Dan sesungguhnya jika umurmu panjang, kamu akan melihat orang yang membawa uang emas atau perak sepenuh-penuh tangannya mencari orang-orang miskin yang akan menerimanya, tetapi tidak seorang pun fakir miskin dijumpainya yang berhak menerimanya (karena seluruh rakyat sudah hidup makmur).'' (HR Bukhari).

Dalam hadis di atas Rasulullah mengajak pemuda Adiy membayangkan, dalam waktu yang tidak lama umat Islam akan hidup dalam sebuah negara yang aman, adil, dan makmur di bawah naungan ridho Ilahi. Dr Yusuf Qardhawi dalam bukunya Musykilatul Faqri Wa Kaifa 'Alajahal Islam menceritakan, segala nubuwat itu sudah disaksikan Adiy di masa hidupnya. Kekuasaan Raja Persia sudah dihabiskan dengan jatuhnya Ktesiphon dalam perang Qadisiyah. Adiy ikut memasuki kota itu dan menyaksikan langsung mahkota kebanggaan Maharaja Persia diboyong ke Madinah. Begitu pula tentang jaminan keamanan, Adiy menyaksikan wanita-wanita dari Iran berkendaraan lancar ke Makkah dalam perjalanan menempuh jarak ribuan kilometer tanpa suatu gangguan.

Negeri yang dijanjikan itu terwujud secara paripurna di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H). Menurut riwayat Baihaqi, Khalifah Umar memerintah hanya 30 bulan. Tapi, setiap rakyatnya tidaklah meninggal dunia melainkan meninggalkan uang yang banyak, dan mereka meninggalkan wasiat supaya hartanya dibagikan kepada fakir miskin. Tetapi, tidak seorang pun di dalam negara itu ada orang yang hidup miskin. Khalifah Umar betul-betul sudah memakmurkan rakyat secara merata.

Negeri yang dijanjikan itu pasti akan terjadi di setiap zaman, jika syarat-syaratnya dipenuhi. Menurut Alquran, tidak dibutuhkan syarat yang banyak, melainkan tersimpul dalam ungkapan kata iman dan takwa. ''Kalau sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, maka pastilah Kami membukakan bagi mereka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, (bila) mereka durhaka, maka Kami siksa mereka disebabkan usaha mereka sendiri.'' (Al-A'raf: 96).

Pada ayat lain Allah berfirman, ''Dan Tuhan memberikan contoh perbandingan adanya negara yang aman tenteram, yang rezekinya berlimpah dari tiap-tiap tempat, kemudian penduduk negeri itu kufur akan nikmat Allah, maka Allah merasakan kelaparan dan ketakutan disebabkan perbuatan mereka sendiri.'' (An-Nahl: 112)

Dalam surat Saba ayat 15-20, diceritakan sebuah negara bernama Saba'. Mulanya rakyat di negeri itu hidup senang dan makmur menikmati karunia Allah. Tapi, karena mereka mendurhakai Tuhan dan berbuat aniaya di antara sesamanya, maka dalam sekejap kemakmuran itu berganti dengan kesengsaraan. Tragedi negeri Saba' hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua.


sumber:republika.co.id

Sunday, February 06, 2005

PENYEBAB BOROS

TIDAK ADA PERENCANAAN

Salah satu ciri zaman modern adalah segala sesuatu dibuat menjadi sangat mudah. Lihat saja televisi, kalau dulu selain ukurannya besar, memindahkan channel-nya pun butuh tenaga. Bandingkan dengan TV zaman sekarang yang sudah menggunakan remote control, yang hanya dengan sekali sentuh, channel sudah berpindah. Termasuk untuk menggerakkan TV-nya sekalipun. Juga AC, lampu, bahkan ada yang dengan suara pun sudah bisa menjadi sensor penggerak peralatan rumah tangga kita, luar biasa. Sungguh kemampuan akal manusia telah menjadikan kebutuhan hidup kita lebih mudah untuk dilakukan.

Tapi, kemudahan ini pun ada dampak negatifnya. Tiada lain karena segala kemudahan yang didukung dengan pengetahuan yang memadai serta sikap mental yang bermutu, ternyata dapat menjadi biang munculnya pemborosan. Ada seorang suami yang tercengang melihat rekening tagihan bulanannya yang membengkak luar biasa sesudah ia dan istrinya masing-masing memiliki kartu kredit dan menggunakan handphone. Tiada lain, karena sedemikian mudahnya menggunakan dua alat yang memang diperuntukkan sebagai pemberi kemudahan ini. Biasa tinggal menggesek dan memijit saja sampai-sampai waktu untuk mengadakan perhitungan biaya yang dikeluarkan pun terlewati.

Sangat berlainan halnya dengan orang yang menyimpan uangnya di tabungan, yang harus berproses dulu. Untuk mengambilnya, proses ini akan cukup menghambat keinginannya untuk mudah mengeluarkan uang. Harap dimaklumi, sesungguhnya tidak berarti kartu kredit dan handphone itu buruk, melainkan para pemiliknya harus memiliki mental dan keilmuan yang lebih tangguh agar apa yang dimilikinya tidak jadi bumerang, yang akan menjebak dan menyengsarakannya.

Salah satu yang dapat kita lakukan untuk menghindari perilaku boros ini adalah dengan membuat perencanaan keuangan. Subhanallaah, sebuah rumah tangga yang terbiasa mengadakan perencanaan, selain lebih hemat juga dapat mengadakan antisipasi terhadap kekurangan cash flow keuangan keluarga. Bahkan anak-anak pun sudah dapat dilatih sedari kecil dengan cara uang jajannya diberikan mingguan atau bahkan bulanan, sehingga sang anak sudah biasa membuat perencanaan pengeluarannya, dalam hal ini akan sangat membantu dalam program penghematan.

Ada sebuah contoh menarik. Ibu Fulanah, sebut saja begitu, hampir setiap minggu selalu bertengkar dengan suaminya. Sebabnya adalah anggaran belanja yang tidak pernah cukup. Padahal menurut perhitungan kasar sang suaminya, dianggap sudah memadai. Sesudah diselidiki dengan seksama, ternyata ibu Fulanah ini memang tidak punya perencanaan anggaran belanja berimbang, sehingga tidak ada prioritas dalam pengeluaran uang dan tentu saja akibatnya banyak hal penting tak terbiayai sedangkan hal sekunder yang tak begitu penting malah dibeli.

Berlainan dengan ibu Siti, bukan nama sebenarnya, yang memiliki pengetahuan untuk mengadakan perencanaan pengeluaran dan pemasukan yang berimbang. Walaupun gaji suaminya pas-pasan dan bahkan cenderung kurang, tapi dengan perencanaan yang cermat dan terbuka kepada seluruh anggota keluarga sehingga setiap anggota keluarga memahami keadaan perekonomian keluarga yang sebenarnya. Akibatnya, selain dananya tepat guna, seluruh keluarga pun terbiasa juga berhemat. Selain itu, kekurangan dana juga bisa dideteksi lebih awal dan segera dicarikan solusinya bersama. Tentu saja hasil kerja sama setiap anggota keluarga ini membantu menyelesaikan masalah yang ada. Sungguh sangat belainan dengan ibu Fulanah dan suaminya tadi yang sibuk saling menyalahkan, padahal tentu saja tidak menyelesaikan masalah, justru malah menambah masalah.

Kalau tak percaya, untuk hal yang sederhana saja yaitu jikalau kita pergi berbelanja ke pasar atau toko serba ada namun tidak punya perencanaan yang jelas, maka akibatnya bisa secara sembrono membeli hal yang tidak prioritas. Disamping itu kurangnya perencanaan menyebabkan pula peluang kegagalan semakin terbuka lebar, berarti pemborosan dalam segala bidang.

Maka jikalau ingin menjadi orang yang hemat, selalu adakan perencanaan yang matang dalam segala hal. Semakin mendetail/rinci maka semakin besar pula peluang untuk sukses dalam penghematan ini. Termasuk untuk hal-hal yang sederhana atau yang biasa dianggap sepele. Biasakanlah sebelum belanja tulis dengan baik dan jelas barang yang harus dibeli dan anggaran yang harus disediakan, begitu pula dalam belanja bulanan, rumah tangga yang terbiasa mengadakan perencanaan, selain lebih hemat juga bisa mengadakan antisipasi terhadap kekurangan biaya belanja, bahkan anak-anak pun sudah bisa dilatih mulai dari kecil dengan cara uang jajannya bisa diberikan mingguan atau bahkan bulanan, sehingga sang anak sudah biasa membuat perencanaan pengeluarannya, dan hal ini akan sangat membantu dalam hal efisiensi.

Hanya saja harus juga dianggarkan dengan jelas biaya sedekah sebagai investasi penting untuk penolak bala dan bencana, pengundang rezeki yang lebih berkah. Jangan sampai keinginan hemat menjadi kekikiran dalam kebaikan. Rasulullah dalam hal ini bersabda, "Orang yang kikir akan jauh dari Allah dan jauh dari manusia" (HR Thabrani).

Allah SWT pun menjelaskan dalam firman-Nya, "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan, jika kamu tidak menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS. Ali Imran [3] : 92). Dalam ayat lain, "Dan barangsiapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS. Ath Taghabun [54] : 16).

Nampaklah bahwa perencanan finansial yang berdampak pada perilaku hemat, ternyata bukan berarti harus kikir.***

KURANG PERAWATAN

Aini sekali lagi harus pergi ke dokter gigi untuk memeriksakan giginya yang sering sakit. Padahal dokter gigi yang praktek di kampungnya cuma satu-satunya dan berjarak cukup jauh hingga untuk mendapatkan perawatan dokter tersebut ia harus meluangkan waktu lebih awal dan tetap antri berlama-lama bersama-sama dengan pasien lain. Aini sebetulnya tidak perlu repot-repot pergi ke dokter gigi seandainya ia rajin merawat kesehatan giginya. Perawatan yang ringan dengan kebiasaan menjaga kebersihan tentu lebih menguntungkannya. Ia tidak perlu membuat jadwal khusus untuk pergi ke dokter gigi yang selain menyita waktu dan tenaga, juga menguras keuangannya untuk sekedar ongkos naik angkot dan membeli obat.

Silahkan bayangkan sendiri apa yang terjadi andaikata kita tidak merawat gigi kita selama sebulan saja, jangan digosok, biarkan saja! Resiko apa kira-kira yang akan kita pikul (keuntungan yang diperoleh adalah hemat odol, hemat waktu, dan hemat tenaga).

(Maaf) Gigi menjadi kuning menebal membuat mual siapapun yang melihatnya, aromanya benar-benar memusingkan siapapun yang menghirupnya tentu saja termasuk yang bersangkutan, penyakit mulut serba kumat bisa jadi sariawan, infeksi mulut, termasuk sakit gigi (seperti yang kita maklumi sakit gigi adalah sakit yang paling dramatis, selain sakitnya hampir tak tertahankan, jarang ada yang menengok apalagi mengirim makanan bahkan terkadang jadi bahan tertawaan), hubungan dengan sesama akan kacau berantakan, begitupun hubungan bisnis/kerja, sekali lagi silahkan kalkulasikan sendiri kerugian dari segala sisi terhadap akibat dari kurangnya perawatan.

Hal ini berlaku terhadap apapun yang harus dirawat, barang-barang rumah tangga, elektronik, kendaraan, apapun termasuk tubuh kita sendiri, kita akan menanggung resiko pengeluaran yang jauh lebih besar dibanding biaya perawatan berkala yang dilakukan.

Pernah kami melihat sebuah mobil Mercy tahun 48, yang masih sangat mulus, karena pemiliknya begitu disiplin merawatnya dengan seksama, baik kondisi bodinya maupun mesinnya, bahkan sampai komponen detail interiornya sekalipun, karena dengan teratur dibersihkan secara apik dan benar, begitu pun penggantian komponen atau pelumas sesuai dengan aturan ausnya, dianggarkan secara khusus, dan hasilnya selain mobil itu awet dan masih sangat nyaman dipakai juga punya nilai jual yang jauh lebih tinggi.

Mahasuci Allah SWT yang menjanjikan "La insyakartum la adzii dannakum wa la in kafartum inna adzaabi la syadiid" (QS. Ibraahim [14] : 7) yang artinya "Barangsiapa yang bersyukur atas nikmat yang ada niscaya Kutambah nikmat-Ku padamu, dan barangsiapa yang tiada tahu bersyukur niscaya adzab Allah sangat pedih."

Memelihara nikmat yang Allah titipkan/karuniakan kepada kita sesungguhnya termasuk amal shaleh yang utama dan dikategorikan ahli syukur yang pasti mendapat balasan nikmat lain yang lebih baik, dan sebaliknya orang yang tak mau merawat nikmat ini termasuk orang yang kufur nikmat yang akan memikul derita kerugian lahir batin, naudzubillaah.

Sebetulnya anggaran untuk merawat, tidak boleh disebut biaya perawatan, melainkan investasi/modal, seperti halnya membeli sikat gigi dan pastanya bukan biaya melainkan modal untuk menikmati gigi yang sehat, bisa makan dengan nikmat dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, marilah kita songsong nikmat yang melimpah yang Allah janjikan dengan mensyukuri nikmat yang ada yaitu diantaranya dengan merawat, memelihara dengan baik, teratur dan benar.

DIPERBUDAK NAFSU

Sesungguhnya pemboros sejati adalah orang-orang yang memang pecinta duniawi ini, yang mengutamakan topeng ingin dipuji dan dihormati orang lain, yang bersikukuh menjaga gengsi, yang ingin serba enak dengan kemewahan, yang larut sebagai korban mode atau korban jaman, yang pada ujungnya penyebabnya adalah kurang iman akibat kurang pengetahuan tentang hakekat hidup mulia yang sebenarnya.

Memang menyedihkan kehidupan yang selalu diukur dengan ukuran materi dengan badai informasi lewat media cetak maupun elektronik lewat film, sinetron, lagu, iklan, dan lain-lain, mempertontonkan kehidupan mewah, glamour, membuat banyak orang yang hidup tidak realistis seakan jauh lebih besar pasak daripada tiang, dan semua ini juga menjadi biang keresahan dan kesengsaraan batin juga menjadi biang terjadinya tindakan ketidakjujuran/kejahatan, karena untuk mendapatkan obsesinya tersebut akan menghalalkan segala cara.

Tukang jaga gengsi, kasihan benar orang yang sangat menjaga gengsi takut tertinggal oleh orang lain, dia akan pontang-panting untuk memiliki sesuatu agar gengsinya dianggap tetap terjaga, walaupun harus pinjam sana-pinjam sini tentu saja barang yang dimilikinya tak akan membahagiakannya karena taruhan untuk memilikinya sesungguhnya diluar kemampuannya.

Korban mode ini pun selain pemboros juga menderita, karena selalu ingin tampil up to date bermode sesuai dengan jaman, tentu akan repot karena mode terus menerus berubah pasti akan sangat menguras tenaga, waktu, dan biaya, dan yang paling meyedihkan paling sering seseorang merasa keren sesuai dengan mode padahal yang melihatnya menjadi sangat geli bahkan mengasihani, karena selain seringkali mode itu tak sesuai/tak pantas, orang lain juga sudah tahu modal yang sebenarnya.

Si Sombong, kalau si Sombong tak pernah tahan melihat orang lain melebihi keadaannya, sehingga yang terus ada dalam benak pikirannya adalah bagaimana selalu kelihatan lebih dari orang lain dalam hal apapun, makanya dia begitu menderita melihat kesuksesan, kekayaan, dan kemajuan orang lain, maka akan berjuang mati-matian dengan cara apapun agar selalu tampak lebih bagus, lebih moderen, lebih kaya, lebih elit, dia sudah tak perhitungkan lagi biaya yang keluar dan dari mana asalnya yang penting lebih dari orang lain.

Si Riya, alias tukang pamer, kalau si Riya ini persis mirip etalase sibuk ingin memiliki sesuatu yang diharapkan membuat dirinya diketahui kekayaanya, statusnya, dan lain sebagainya, tentu saja ia akan berusaha pamer pakai barang luar negeri, ekslusif, lain dari yang lain, yaa sebetulnya mirip satu sama lain, fokus dari pikirannya adalah bagaimana supaya dinilai hebat oleh orang lain setidaknya tidak diremehkan.

Dalam beberapa hal menjaga kemuliaan diri ini adalah kebaikan, tapi kalau sampai menyiksa diri, melampaui batas kemmpuan apalagi sampai melanggar hak-hak orang lain termasuk yang diharapkan, maka jelaslah kerugian dunia akhiratnya.

CEROBOH ATAU KURANG PERHITUNGAN (LALAI)

Kawan karibnya tergesa-gesa adalah ceroboh, tidak hati-hati, atau tidak berperhitungan cermat. Boleh jadi dia sudah punya perencanaan matang lalu menahan diri dari tergesa-gesa tapi belum juga luput dari kerugian kalau dia masih bertindak ceroboh. Skala kerugian akibat ceroboh ini sangat macam-macam mulai dari yang sederhana sampai bencana masal lahir batin melibatkan orang banyak.

Kisah kawan yang baru pulang dari Timur Tengah, dengan penuh keceriaan dan bangga memperlihatkan oleh-oleh yang katanya barang elektronik langka dan tidak ada di Indonesia. Sudah sangat terbayang dibenaknya selama perjalanan untuk mempergunakan alat canggih dan mahal ini, maka sesampainya di rumah sebelum melakukan apapun segera saja dibuka bungkusnya untuk dioperasikan secepatnya. Dengan diiringi uraian panjang lebar tentang keutamaan alat ini maka segeralah kabel listriknya dipasang. Tunggu punya tunggu kenapa tidak jalan seperti semestinya, bahkan beberapa saat kemudian tercium bau khusus, ya bau khusus kabel terbakar dan benar saja asap pun segera menghiasi alat baru tersebut. Walhasil selain kaget, sedih, kecewa. Tentu saja sangat rugi uang, waktu, dan tenaga mengangkut dari jauh ribuan kilo meter, hanya dalam bilangan detik saja menjadi sampah tak berguna karena kecerobohan lupa merubah voltase listriknya.

Ada kisah yang lebih dramatis lagi, semoga tidak ada orang yang mengulangi kecerobohan ini, yaitu ketika seorang ayah yang tentu sangat sayang kepada keluarganya, harus mengantar istri dan anaknya berobat ke dokter, mampir di sebuah apotik untuk membeli obat. Ketika keluar dari mobil, segera saja lari masuk ke dalam apotik, tiba-tiba terdengar jeritan dan suara benturan yang keras lalu suara benda besar terjun ke sungai, apakah yang terjadi? Ternyata sang suami ini begitu ceroboh memarkir mobilnya di pinggir jalan yang menurun dan tidak memasang rem tangan ataupun memasukkan gigi persenelingnya, sehingga sepeninggalnya mobil ini meluncur dengan sendirinya tak terkendali lalu membentur dinding jembatan dan akhirnya jatuh ke sungai, sungguh tragis. Ternyata hidup dengan mengandalkan kasih sayang saja tidak cukup, melainkan juga harus dengan kehati-hatian. Jauh dari kecerobohan.

Belum lagi kisah seorang ibu yang mengantuk ketika memberi obat kepada anaknya, yang ternyata harus rela kehilangan buah hatinya, karena ceroboh salah memberikan obat.

Begitu banyak kisah kecerobohan dari sisi kehidupan manapun yang ujungnya adalah bencana yang sangat merugikan dan memilukan. Oleh karena itu, sebagai langkah awal kita harus selalu berupaya memahami segala sesuatu dengan baik. Luangkanlah waktu untuk mempelajari prosedur dan aturan-aturan penggunaan, cara pakai yang benar, dosis atau takaran yang pasti, bacalah buku/lembaran panduannya terlebih dahulu, dan pahami dengan seksama berikut segala larangan dan resikonya.

Lalu tahap selanjutnya berusahalah untuk disiplin dan tertib melaksanakan sesuai aturan. Ikutilah tahapan-tahapan dan batasan-batasan yang dianjurkan/diharuskan dengan seksama, dan bersabarlah untuk mengikutinya, jangan sok tahu dan menganggap enteng.

Selalu melakukan sesuatu dengan kesungguhan, kehati-hatian dan konsentrasi yang baik agar tak terjadi kecerobohan yang merugikan.

MALAS

Berbicara tentang kemalasan, maka bukan berbicara tentang kurang pengetahuan. Dia tahu tapi tetap tidak melakukan hal yang semestinya dilakukan, ya karena enggan atau malas itulah, dan kerugian yang timbul pun bukan main-main bisa jadi sampai hilang nyawa. Para pengangguran yang malas mencari nafkah, atau malas bekerja keras, benar-benar makhluk beban biang pemborosan karena walaupun menganggur dia tetap harus menguras dana untuk makan, minum, tempat berteduh, mandi, listrik, air ledeng, dan lain sebagainya..

Padahal kalau dia mau saja keluar dari rumahnya dengan niat dan tekad untuk bekerja keras mencari nafkah niscaya akan seperti burung yang keluar dari sangkarnya dan kembali membawa cacing untuk makan keluarganya, jadi bukan karena tidak ada jatah rizkinya melainkan malas menjemput jatahnya.

Ada seorang pemuda, malah mahasiswa, mempunyai motor yang bagus tapi dia malas sekali untuk memarkir kendaraannya di tempat semestinya, merasa lebih mudah menyimpan di depan pintu kostnya dan dia pun malas untuk repot-repot menggunakan rantai pengaman. Di ujung kisah ini sudah bisa ditebak, kemalasan seperti ini adalah memberi kemudahan bagi para maling untuk melakukan aksinya. Malas mengeluarkan waktu dan tenaga yang tak seberapa dan hasilnya lenyaplah berjuta-juta hasil tabungan orang tuanya plus masih harus nyicil sisanya.

Kisah lainnya tentang safety belt atau sabuk pengaman. Karena merasa sudah terbiasa tak menggunakan dan juga malas memakainya, maka Pak Fulan sang boss sebagai pemilik mobil mewah harus memiklul derita yang menyedihkan, yaitu tatkala ada mobil orang lain yang hilang kendali sehingga menabrak mobilnya tanpa bisa dihindarkan. Akibatnya, selain harus berbaring di rumah sakit berbulan-bulan karena geger otak dan patah tulang tangan serta kakinya yang tentu mengeluarkan biaya mahal, juga tak dapat bekerja dengan baik yang menghilangkan kesempatan bisnisnya, serta silahkan hitung jenis kerugian lainnya. Hal yang berbeda tidak dialami sang supir yang walaupun pendidikannya hanya Sekolah Dasar tapi selalu berusaha tertib, disiplin, dan tidak mengenal malas untuk menyempurnakan kewajibannya. Sang supir selamat karena menggunakan sabuk pengaman dengan baik dan juga tidak pernah malas untuk berdo’a meminta perlindungan kepada Allah yang menguasai segala kejadian. Tak pernah malas untuk berdzikir sepanjang jalan, juga tak pernah malas untuk bersedekah, bukankah sedekah adalah penolak bala.

Silahkan renungkan sendiri perkara kemalasan lainnya. Misalnya malas mandi, maka bersiaplah untuk berpanu ria. Malas mengerjakan tugas dan belajar maka bersiaplah untuk tidak naik kelas/tingkat. Malas ngantor maka bersiaplah untuk dirumahkan, malas beribadah maka bersiaplah untuk mendapatkan penderitaan dunia akhirat (naudzubillaah), bukankah tugas kita ini untuk beribadah?! Percayalah tidak ada jalan kesuksesan bagi pemalas yang malang. Maka, marilah kita lawan dengan segenap tenaga, dobrak, bagai buldozer menggempur penghalang. Yakinlah bahwa kita sangat sanggup melawan kemalasan yang merugikan dan menghinakan itu dengan mudah asalkan mau memulainya dengan DO IT NOW. Lakukan sekarang juga apa yang harus kau lakukan. Selamat menikmati hasilnya.

KURANG KENDALI

Ada sebuah rumus sederhana untuk sebuah kebangkrutan, pada umumnya jatuhnya sebuah usaha itu tidak langsung sekaligus melainkan pelan menjalar dan akhirnya menjadi parah tak tertahankan, dan penyebab semua ini adalah lemahnya system pengontrolan dari usaha tersebut.

Ya bagi siapapun yang mau pergi menggunakan kendaraan dan tidak melakukan pengontrolan terhadap jumlah bahan bakar yang ada maka bersiaplah stress sepanjang jalan dan siap pula untuk berkuah peluh mendorongnya, apalagi perjalanan keluar kota dan tidak punya sistem pengontrolan terhadap air radiator, oli, ban cadangan dan peralatannya, kotak P3K, atau hal lainnya maka bersiaplah untuk memikul biaya besar akibat kelalaian pengontrolan ini.

Orang tua yang tidak punya sistem kontrol yang baik terhadap perilaku dan pergaulan anak-anaknya, tampaknya terlalu banyak contoh di sekitar kita tentang aib dan bencana yang harus dipikul kedua orang tuanya.

Begitu pun organisasi yang lemah sistem kontrolnya baik ke atas maupun ke bawah niscaya organisasi ini akan menjadi organisasi babrok, tak bermutu, tak akan berprestasi dengan benar dan baik, dan suatu saat pasti ambruk karena memang demikianlah sunnatullah-nya. Termasuk sakitnya bangsa ini jelas sekali menjadi pelajaran bagi kita semua, korupsi dimana-mana merajalela disegala lapisan, sungguh menyedihkan memang bangsa kita punya moral yang sangat buruk begini, pelajaran yang dapat diambil memang sistem pengontrolan dari rakyat ke penguasa hampir tiada, aparat yang harus juga ternyata tak jujur maka ya jadilah semrawut begini.

Oleh karena itu marilah kita mulai dari diri kita, keluarga kita untuk berbudaya membangun system pengontrolan yang baik, benar dan tepat, awali pengetahuan tentang resiko yang harus dipikul yang dapat dicegah dengan cek dan ricek yang baik, lalu biasakan membuat check list, atau daftar pengecekan yang jelas dan detail, dan mulailah membiasakan untuk tidak melakukan apapun sebelum mengadakan check dan ricek tadi, Insya Allah semoga Dia mencegah segala kemudharatan dengan sikap kita yang penuh kehati-hatian ini, sehingga kita lebih dapat menikmati hidup ini dengan lebih baik.

SEGALANYA MUDAH

Salah satu ciri dari zaman modern ini adalah segala sesuatunya dibuat menjadi sangat mudah, lihat saja TV, kalau dulu selain ukurannya besar memindahkan chanelnya juga butuh tenaga, bandingkan dengan TV saat ini, sudah menggunakan remote yang hanya disentuh saja termasuk menggerakkan TV-nya sekalipun, juga AC, lampu, bahkan suara kita pun sudah bisa jadi sensor penggerak peralatan, luar biasa.

Tapi ada dampak negatifnya segala kemudahan yang tak didukung dengan pengetahuan yang memadai serta sikap mental yang bermutu, karena ternyata biang pemborosan pun bisa lahir dari kemudahan ini.

Ada seorang suami yang tercengang melihat rekening tagihan bulanannya yang membengkak luar biasa sesudah beliau dan istrinya masing-masing memiliki kartu kredit dan menggunakan handphone, karena demikian mudahnya menggunakannya tinggal menggesek dan memijit saja sampai-sampai waktu untuk mengadakan perhitungan pun terlewati, tentu sangat berlainan halnya dengan orang yang menyimpan uang di tabungan yang harus berproses untuk mengambilnya, proses ini akan cukup menghambat keinginannya untuk mudah mengeluarkan uang, harap dimaklumi sesungguhnya tidak berarti kartu kredit dan handphone itu buruk melainkan para pemiliknya harus memiliki mental dan keilmuan yang lebih tangguh agar apa yang dimilikinya tidak jadi bumerang, yang akan menjebak dan menyengsarakannya.

Sistem belanja dengan mencicil juga harus dicermati dengan seksama, kemudahan yang diberikan dengan kiriman langsung ke rumah dan dicicil bulanan, tentu saja ada mamfaatnya tapi tidak jarang menjadi ajang pemborosan karena digunakan untuk memiliki sesuatu yang sebetulnya tidak/belum begitu diperlukan, sedangkan cicilan-cicilan yang beraneka ragam akan sangat terasa ketika sudah mulai mencicilnya dan lebih terasa lagi jikalau cicilannya jangka panjang sedang sang barang tak begitu tinggi nilai mamfaatnya atau bahkan sudah rusak.

Termasuk berbelanja di superstore, yang sangat serba ada, daya rangsang untuk membeli akan timbul dengan kemudahan melihat barang-barang tersebut, yang sebetulnya jikalau mau jujur tanpa barang tersebut pun tak akan berpengaruh bagi keadaan rumah tangga, sungguh harus sangat berhati-hati selain harus direncanakan dengan baik apa yang akan dibeli juga harus dibatasi membawa uangnya agar tak kebobolan, berbelanja hanya karena tergiur dengan kemudahan melihat dan mendapatkannya.


(Sumber : Koran Kecil MQ EDISI 12, 13, 14, 15/TH.I/2001)